<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>CHILDREN FEVER CLINIC</title>
	<atom:link href="http://feverclinic.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://feverclinic.wordpress.com</link>
	<description>children health pediatrician swine flu flu babi demam kejang tifus dbd dengue dhf pediatrician indonesia jakarta</description>
	<lastBuildDate>Mon, 17 Aug 2009 13:33:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='feverclinic.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>CHILDREN FEVER CLINIC</title>
		<link>http://feverclinic.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://feverclinic.wordpress.com/osd.xml" title="CHILDREN FEVER CLINIC" />
	<atom:link rel='hub' href='http://feverclinic.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>KENALI DAN WASPADAI PENYAKIT KAWAZAKI (KAWAZAKI DISEASE)</title>
		<link>http://feverclinic.wordpress.com/2009/08/17/waspadai-penyakit-kawazaki-kawazaki-disease/</link>
		<comments>http://feverclinic.wordpress.com/2009/08/17/waspadai-penyakit-kawazaki-kawazaki-disease/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 13:18:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The Children Indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[infeksi virus]]></category>
		<category><![CDATA[penyebab demam]]></category>
		<category><![CDATA[ANAK DOKTER ANAK PENYAKIT INDONESIA KESEHATAN JAKARTA]]></category>
		<category><![CDATA[demam alergi anak dokter kulit demam penyebab kejang jantung dokter anak infeksi  kawazaki penyakit]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://feverclinic.wordpress.com/?p=374</guid>
		<description><![CDATA[Penyakit Kawasaki pertama kali dideskripsikan pada tahun 1967 oleh Tomisaku Kawasaki, seorang dokter anak dari Jepang. Penyakit ini jarang terjadi, termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, seringkali penegakan diagnosis penyakit Kawasaki terlewatkan. Bahkan, pada beberapa kasus, penyakit ini baru diketahui pada tahap yang sudah parah. Pada saat tahun 1967  penyakit ini dikenal sebagai mucocutaneous lymphnode syndrome. Untuk menghormati [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=374&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penyakit Kawasaki pertama kali dideskripsikan pada tahun 1967 oleh Tomisaku Kawasaki, seorang dokter anak dari Jepang. Penyakit ini jarang terjadi, termasuk di Indonesia. Oleh karena itu, seringkali penegakan diagnosis penyakit Kawasaki terlewatkan. Bahkan, pada beberapa kasus, penyakit ini baru diketahui pada tahap yang sudah parah. Pada saat tahun 1967  penyakit ini dikenal sebagai <em>mucocutaneous lymphnode syndrome</em>. Untuk menghormati penemunya, maka dinamakan penyakit kawasaki. Di Indonesia, banyak di antara kita yang belum memahami penyakit yang berbahaya ini, bahkan di kalangan medis sekalipun. Hal inilah yang menyebabkan diagnosis acap terlambat dengan segala konsekuensinya.</p>
<div>
<div>
<p>Penampakan penyakit ini juga dapat mengelabui mata sehingga dapat terdiagnosis sebagai campak, alergi obat, infeksi virus, atau bahkan penyakit gondong. Penyakit yang lebih sering menyerang ras Mongol ini terutama menyerang balita dan paling sering pada anak usia 1-2 tahun.<br />
<span style="font-size:10pt;font-family:Tahoma,sans-serif;"><span style="color:#000000;">Penyakit Kawasaki tersebar seluruh dunia yang mengenai seluruh etnik terutama ras Asia. Di AS pada tahun 2000 diperkirakan terdapat 4248 pasien rawat inap dengan Penyakit Kawasaki. Anak laki-laki lebih sering terkena dari perempuan. Di Indonesia diperkirakan sudah ditemukan lebih dari 100 kasus terutama di daerah Jabotabek.</span></span>Angka kejadian per tahun di Jepang tertinggi di dunia, yaitu berkisar 1 kasus per 1.000 anak balita, disusul Korea dan Taiwan. Di Amerika Serikat berkisar 0,09 (pada ras kulit putih) sampai 0,32 (pada keturunan Asia-Pasifik) per seribu balita. </p>
<p>Namun kenyataannya kasus yang terdeteksi masih sangat jauh di bawah angka ini. Sekitar 20-40 persen-nya mengalami kerusakan pada pembuluh koroner jantung. Sebagian akan sembuh  namun sebagian lain terpaksa menjalani hidup dengan jantung yang cacat akibat aliran darah koroner yang terganggu. Sebagian kecil akan meninggal akibat kerusakan jantung.</p>
<p>Penyebab penyakit Kawasaki masih belum jelas hingga hari ini. Banyak yang menduga, kuman atau racun yang dikeluarkan kuman tertentu yang menjadi penyebab. Tetapi, belum ada bukti kuat yang mendukung dugaan tersebut. Dugaan lain adalah peran dari faktor genetik dan sistim imun penderita.Karena itu cara pencegahannya juga belum diketahui.  Penyakit ini juga tidak terbukti  menular.</p>
<p><strong>MANIFESTASI KLINIS :</strong></p>
<p><strong>TANDA DAN GEJALA</strong></p>
<ol>
<li>Demam. Fase akut diawali dengan suhu tubuh yang mendadak tinggi, bisa mencapai 41<sup>o</sup>C. Biasanya demam bersifat turun naik, menetap selama 5 hari atau lebih, walaupun telah diberi obat penurun demam.</li>
<li>Bercak-bercak merah di badan yang mirip seperti bercak-bercak pada campak.</li>
<li>Mata merah, tetapi tidak berair atau berlendir.</li>
<li>Bibir berwarna merah, kering, dan pecah-pecah.</li>
<li>Lidah dan selaput lendir berwarna merah stroberi (<em>“Strawberry tongue”</em>)</li>
<li>Kemerahan pada telapak tangan dan kaki, biasanya disertai dengan sedikit bengkak.</li>
<li>Pembengkakan kelenjar getah bening, biasanya pada leher, dan hanya mengenai 1 sisi.</li>
<li>Beberapa anak dapat mengeluh rasa nyeri pada sendi.</li>
<li>Tahap penyembuhan terjadi pengelupasan kulit daerah ujung jari tangan dan kaki.</li>
</ol>
<tbody>
<tr>
<td> </td>
</tr>
<tr>
<td> </td>
</tr>
</tbody>
<p><img src="http://www.daviddarling.info/images/Kawasaki_disease.gif" alt="" /></p>
<blockquote><p><img src="http://img.medscape.com/pi/emed/ckb/emergency_medicine/756148-804960-580.jpg" border="1" alt="Pediatrics, Kawasaki disease. Note the appearance..." width="404" height="112" /></p></blockquote>
<h4>Pediatrics, Kawasaki disease. Note the appearance of the hand and lips. Photo courtesy of Sam Richardson, MD.</h4>
<p><strong><span style="color:#ff0000;">BAYI DENGAN KAWAZAKI</span></strong></p>
<p><img src="http://www.aafp.org/afp/20061001/1141-f1.jpg" alt="" /></p>
<p><strong><img src="http://anabolicsteroidsbuysteroids.files.wordpress.com/2009/07/pulsed-steroid-therapy-in-kawasaki-disease-treatment.jpg?w=468" alt="" /></strong></p>
<table style="width:498px;height:902px;" border="0" cellpadding="5" width="498">
<tbody>
<tr>
<td> <img src="http://www.lib.uiowa.edu/hARDIN/MD/pictures22/dermnet/kawasaki982.jpg" alt="" width="446" height="215" /><!-- InstanceEndEditable --></td>
<td width="3" valign="top"> </td>
<td width="209" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"><!-- InstanceBeginEditable name="EditRegion15" --><!-- InstanceEndEditable -->DermNet.com is developed &amp; maintained by Alan N. Binnick &amp; Thomas P. Habif, Dartmouth Medical School, New Hampshire. </p>
<table border="0" cellpadding="5" width="750">
<tbody>
<tr>
<td>  <img src="http://www.lib.uiowa.edu/hardin/md/pictures22/dermnet/kawasakisyndrome9874.jpg" alt="" width="391" height="365" /><img src="http://www.lib.uiowa.edu/HARDIN/md/pictures22/dermnet/kawasaki98.jpg" alt="" width="311" height="361" /> <img src="http://www.lib.uiowa.edu/HARDIN/MD/pictures22/dermnet/kawasaki987.jpg" alt="" width="225" height="359" /><!-- InstanceEndEditable --><!-- InstanceEndEditable --></td>
<td width="3" valign="top"> </td>
<td width="209" valign="top"> </td>
</tr>
<tr>
<td valign="top"><!-- InstanceBeginEditable name="EditRegion15" --><!-- InstanceEndEditable -->DermNet.com is developed &amp; maintained by Alan N. Binnick &amp; Thomas P. Habif, Dartmouth Medical School, New Hampshire.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>Fase Akut (10 hari pertama )</strong></p>
<p><strong>Enam gelaja diagnostik</strong></p>
<ol>
<li>Demam tinggi mendadak, tidak respon dengan antibiotika, dapat     berlangsung 1-2 minggu bahkan bisa 4-5 minggu. Dalam 2-5 hari demam    gejala lain akan muncul.</li>
<li>Konjunctivitis bilateral tanpa eksudat.</li>
<li>Bibir merah terang kemudian pecah dan berdarah, lidah merah (strawberry tongue) dan eritema difus pada rongga mulut dan faring.</li>
<li>Edema yang induratif dan kemerahan pada telapak tangan dan telapak kaki, kadang terasa nyeri.</li>
<li>Eksantema berbagai bentuk (polimorfik), dapat di wajah , badan dan ektremitas. Sering menyerupai urtikaria dan gatal, dapat seperti makula dan papula sehingga menyerupai campak.</li>
<li>Pembesaran kelenjer getah bening leher (cervikal) dijumpai sekitar 50% penderita, hampir selalu bersifat unilateral dan berukuran &gt; 1,5 cm.</li>
</ol>
<p> <img src="http://www.chw.edu.au/parents/factsheets/img_kawasaki_disease.jpg" alt="" /></p>
<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_CS7LtAXAYbU/SZordv_PLpI/AAAAAAAAAUc/FzE5M4yMG8Y/s1600-h/kawasaki-disease-05.jpg"><img style="cursor:pointer;" src="http://2.bp.blogspot.com/_CS7LtAXAYbU/SZordv_PLpI/AAAAAAAAAUc/FzE5M4yMG8Y/s400/kawasaki-disease-05.jpg" border="0" alt="" width="302" height="237" /></a><a href="http://3.bp.blogspot.com/_CS7LtAXAYbU/SZordbyxJdI/AAAAAAAAAUE/UJ7SgtboG8Y/s1600-h/kawasaki-disease-02.jpg"> <img src="http://www.lib.uiowa.edu/HARDIN/MD/pictures22/dermnet/14postinfdesquam.jpg" alt="" width="260" height="237" /><img style="width:306px;cursor:pointer;height:226px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_CS7LtAXAYbU/SZordbyxJdI/AAAAAAAAAUE/UJ7SgtboG8Y/s400/kawasaki-disease-02.jpg" border="0" alt="" /></a><br />
<a href="http://4.bp.blogspot.com/_CS7LtAXAYbU/SZorsri5e5I/AAAAAAAAAUk/GPMcaV7WNiI/s1600-h/kawasaki-disease-06.jpg"><img style="width:206px;cursor:pointer;height:400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_CS7LtAXAYbU/SZorsri5e5I/AAAAAAAAAUk/GPMcaV7WNiI/s400/kawasaki-disease-06.jpg" border="0" alt="" /></a><a href="http://1.bp.blogspot.com/_CS7LtAXAYbU/SZordlHGa2I/AAAAAAAAAUU/Pp_CI6Uom_o/s1600-h/kawasaki-disease-04.jpg"><img style="width:267px;cursor:pointer;height:400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_CS7LtAXAYbU/SZordlHGa2I/AAAAAAAAAUU/Pp_CI6Uom_o/s400/kawasaki-disease-04.jpg" border="0" alt="" /></a></p>
<p><strong>Tanda dan gejala lain yang mungkin dijumpai :</strong></p>
<ul>
<li>Piuria steril (pada 60% kasus)</li>
<li>Gangguan fungsi hepar ( 40%)</li>
<li>Artritis sendi besar (30%) dapat juga sendi kecil</li>
<li>Meningitis aseptik (25%)</li>
<li>Nyeri perut dengan diare (20%)</li>
<li>Hidrops kandung empedu dengan ikterus (10%)</li>
</ul>
<p> <img src="http://intinusantara.files.wordpress.com/2008/08/kawasaki-det.jpg?w=468" alt="" /></p>
<p><strong>Kelainan kardiovaskuler yang mungkin timbul :</strong></p>
<p>Takikardi, irama derap, bising jantung, kardiomegali, efusi perikardium, disfungsi ventrikel kiri, perubahan EKG, (PR interval memanjang, voltase QRS rendah, ST depresi/elevasi, QTc memanjang). Kelainan arteri Koroner mulai terjadi pada akhir minggu pertama hingga minggu kedua</p>
<p><strong>Fase Subakut ( hari 11-25 )</strong></p>
<ul>
<li>Deskuamasi ujung jari tangan dan kemudian diikuti jari kaki (karakteristik).</li>
<li>Eksentema, demam dan limfadenophati menghilang.</li>
<li>Perubahan kardiovaskuler yang nyata mungkin timbul : dapat terjadi dilatasi  / aneurisma, efusi perikardium, gagal jangtung dan infark miokard. Jumlah trombosit meningkat, dan dapat mencapat lebih dari  1.000,000/ mm3  </li>
</ul>
<p><strong>Fase Konvalesen ( 6-8 minggu dari awitan )</strong></p>
<p>Pada fase ini laju endap darah dan hitung trombosit mencapai nilai normal kembali, dapat dijumpai garis tranversa yang dikenal dengan Beau’s line. Meskipun anak tampak menunjukkan perbaikan klinis, namun kelainan jantung dapat berlangsung terus.</p>
<p>Gejala awal pada fase akut adalah demam yang mendadak tinggi dan bisa mencapai 41° C. Demam berfluktuasi selama setidaknya 5 hari tetapi tidak pernah mencapai normal. Pada anak yang tidak diobati, demam dapat berlangsung selama 1-4 minggu tanpa jeda. Pemberian antibiotik  tidak menolong. Sekitar 2-3 hari setelah demam, mulai muncul gejala lain secara bertahap yaitu bercak bercak merah di badan yang mirip seperti pada penyakit campak.</p>
<p>Namun gejala batuk pilek yang dominan pada campak biasanya ringan atau bahkan tidak ada pada PK. Gejala lain yang timbul adalah kedua mata merah, tapi tanpa kotoran (belekan), pembengkakan kelenjar getah bening di salah satu sisi leher sehingga kadang diduga  penyakit gondong (parotitis), lidah merah menyerupai stroberi, bibir juga merah dan kadang pecah-pecah, telapak tangan dan kaki merah dan agak membengkak. Kadang anak mengeluh nyeri pada persendian. Pada fase penyembuhan terjadi pengelupasan kulit di ujung jari tangan serta kaki dan kemudian timbul cekungan berbentuk garis melintang pada kuku kaki dan tangan (garis Beau).</p>
<p>Pada awalnya dapat terjadi pelebaran pembuluh ini kemudian bisa terjadi penyempitan bagian dalam atau sumbatan. Akibatnya aliran darah ke otot jantung terganggu sehingga dapat menimbulkan kerusakan pada otot jantung yang dikenal sebagai infark miokard. Pemeriksaan jantung menjadi hal yang sangat penting termasuk EKG dan ekokardiografi (USG jantung). Kadang  <em>ultrafast</em> <em>CT scan,</em> MRA (<em>Magnetic Resonance Angiography</em>) maupun kateterisasi jantung diperlukan pada kasus yang berat. Pemeriksaan laboratorium untuk penyakit ini tidak ada yang khas.</p>
<p><img src="http://2.bp.blogspot.com/_-WsaCfPPjYQ/SF8jioL-xRI/AAAAAAAAAs0/IHP0cqXb1Jg/s400/Kawasaki_disease.jpg" alt="" /></p>
<p>Biasanya jumlah sel darah putih, laju endap darah dan <em>C Reactive protein</em>  meningkat pada fase akut. Jadi diagnosis ditegakkan  atas dasar gejala dan tanda klinis semata sehingga  pengalaman dokter sangat dibutuhkan. Pada fase penyembuhan,  trombosit darah  meningkat dan ini akan memudahkan terjadinya trombus atau bekuan darah yang menyumbat pembuluh koroner jantung.</p>
<p><strong>Pemeriksaan penunjang :</strong></p>
<p><strong>Laboratorium :</strong></p>
<ul>
<li>Lekositosis pada fase akut dengan pergeseran ke kiri pada hitung jenis.</li>
<li>Anemia normositik normogrom.</li>
<li>Peningkatan reaktan fase akut : CRP (C Reactive Protein), laju endap darah.</li>
<li>Trombositosis di jumpai pada fase akut bisa &gt; 1.000.000/mm<sup>3</sup>.</li>
<li>Piuria.</li>
<li>Peningkatan trasaminase serum (enzim hati), hiperbilirubinemia ringan,  peningkatan gamma glutamyl transpeptidase.</li>
<li>Hipoalbuminemia pada kasus berat.</li>
<li>Peningkatan enzim miokardium seperti Creatine Phospokinase MB menunjukan</li>
<li>infark miokard</li>
</ul>
<p><strong>Rontgen thoraks :</strong></p>
<p>Biasanya tidak banyak memberi informasi, dapt ditemukan kardiomegali jika terjadi miokarditis atau kelainan arteri koroner atau regurgitasi katup yang berat,</p>
<p><img src="http://www.clevelandclinicmeded.com/medicalpubs/diseasemanagement/cardiology/mitral-valve-disease/images/mitralvalvefig1_large.jpg" alt="" width="222" height="192" /><a title="Verkalkte aneurysmatische Coronarien.jpg" href="http://feverclinic.wordpress.com/wiki/File:Verkalkte_aneurysmatische_Coronarien.jpg"><img src="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/2f/Verkalkte_aneurysmatische_Coronarien.jpg/190px-Verkalkte_aneurysmatische_Coronarien.jpg" alt="" width="212" height="190" /></a><br />
<span>Kawasaki disease</span></p>
<p><span> </span></p>
<p><strong>EKG : </strong>Harus dilakukan saat diagnosis ditegakkan. EKG dapat menunjukkan gambaran voltage QRS rendah, perubahan gelombang ST elevasi atau depresi, QTc memanjang, Gelombang Q yang abnormal</p>
<p><img src="http://img.medscape.com/fullsize/migrated/584/693/jem584693.fig8.jpg" alt="" /></p>
<p><strong>Ekokardiografi : </strong>Pemeriksaan ini mutlak perlu dilakukan untuk melihat kelainan arteri koroner dan disfungsi jantung yang lain.</p>
<div style="width:460px;"><a href="http://www.heartpearls.com/wp-content/uploads/2009/04/image-upload-55-709345.jpg"><img title="Echocardiogram in parasternal short axis view showing coronary aneurysm in Kawasaki disease" src="http://www.heartpearls.com/wp-content/uploads/2009/04/image-upload-55-709345.jpg" alt="Echocardiogram in parasternal short axis view showing coronary aneurysm in Kawasaki disease" width="450" height="600" /></a> Echocardiogram in parasternal short axis view showing coronary aneurysm in Kawasaki disease </div>
<div>Modified parasternal short axis view in Kawasaki disease (mucocutaneous lymph node syndrome) with coronary aneurysm. The right coronary artery (RCA) arising from the aorta (AO) is seen to be grossly dilated. The proximal left anterior descending coronary artery (LAD) and left circumflex coronary artery (LCX) are dilated. Coronary aneurysms are characteristic features of Kawasaki disease. Any case of Kawasaki disease needs regular echocardiographic follow up for early detection of coronary aneurysms. In addition to intravenous immunoglobulin given in the acute phase of Kawasaki disease, infliximab has been used in cases with coronary aneurysms. Echocardiography in Kawasaki disease has to be done meticulously with measurement of coronary dimensions and assessing them in relation to the nomogram for the age as the coronary diameter varies with age in children. The vertical light and dark bands seen in the image are recording artefacts which can be ignored.</div>
<div><strong>An angiogram showing abnormal coronary arteries in a child suffering from Kawasaki’s disease. The coronary arteries bulge into balloon shapes, called aneurysms, along their lengths. </strong> </div>
<div>(Photograph by Mehau Kulyk. Photo Researchers, Inc.)</div>
<p>Read more: <a href="http://www.healthofchildren.com/I-K/Kawasaki-Syndrome.html#ixzz0OReMAwTd">http://www.healthofchildren.com/I-K/Kawasaki-Syndrome.html#ixzz0OReMAwTd</a></p>
<p><strong>Diagnosis :</strong></p>
<p> Diagnosis Penyakit Kawasaki didasarkan kepada gejala klinis semata. Tidak ada pemeriksaan penunjang yang dapat memastikan diagnosis. Terdapat 6 kriteria gejala diagnostik :</p>
<p>1. Demam remiten dapat mencapai 41<sup>O </sup>C dan berlangsung &gt; 5 hari.</p>
<p>2. Infeksi konjunktiva bilateral (tanpa eksudat).</p>
<p>3. Kelainan di mulut dan bibir : lidah Strawberry, rongga mulut merah difus, bibir    merah dan pecah.</p>
<p>4. Kelainan tangan dan kaki, eritema dan edema pada fase akut serta deskuamasi    ujung jari tangan  dan kaki pada fase subakut.</p>
<p>5. Eksantema yang polimorfik.</p>
<p>6. Limfadenopathi servikal unilateral.</p>
<p> </p>
<p><strong>Pengobatan</strong></p>
<ul>
<li>Penderita  Kawasakiharus dirawat inap di rumah sakit. Komplikasi yang paling ditakutkan adalah pada jantung (terjadi pada 20-40 persen penderita) karena dapat merusak pembuluh nadi koroner. Komplikasi ke jantung biasanya mulai terjadi setelah hari ke 7-8 sejak awal timbulnya demam.</li>
<li>Semua pasien dengan Penyakit Kawasaki fase akut harus menjalani tirah baring dan rawat inap. Selama fase akut aspirin dapat di berikan 80-100 mg/kgbb/hari dalam 4 dosis terbagi dan imunoglobulin intravena 2 gr/kgbb dosis tunggal diberikan selama 10-12 jam. Lamanya pemberian aspirin bervariasi, pengurangan dosis dilakukan 48-72 jm bebas demam, beberapa klinisi memberikan aspirin dosisi tinggi sampai 14 hari sakit dan 48-72 jam setelah demam hilang.<sup> </sup> Dosis rendah aspirin 3-5mg/kgbb/hari dan dipertahankan hingga pasien tidak menunjukan perubahan arteri koroner dalam 6-8 minggu onset penyakit.  Steroid digunakan untuk Penyakit Kawasaki bila terdapat kegagalan respon dengan terapi inisial. Regimen steroid yang umum diberikan methylprednisolon intravena 30mg/kgbb selama 2-3 hari diberikan sekali sehari selama 1-3 jam.</li>
<li>Pengobatan penyakit Kawasaki umumnya dilakukan di rumah sakit. Pengobatan bertujuan untuk mengatasi demam, peradangan, dan mengurangi kemungkinan timbulnya komplikasi jantung. Untuk itu diberikan aspirin dosis tinggi yang berfungsi sebagai antidemam, antiperadangan, dan mencegah pembentukan gumpalan darah.</li>
<li>Selain itu, penderita diberikan juga Gamma Globulin melalui pembuluh darah vena, yang berguna untuk menurunkan risiko timbulnya gangguan jantung. Jika pengobatan berhasil, penderita akan membaik dalam waktu 24 jam.</li>
<li>Imunoglobulin  atauGamma Globulin diberikan secara infus selama 10-12 jam. Obat yang didapat dari plasma donor darah ini ampuh untuk meredakan gejala PK maupun menekan risiko kerusakan jantung, tapi harga yang mahal menjadi kendala. Harga satu gram berkisar Rp 1 juta. Penderita Kawasaki membutuhkan imunoglobulin 2 gram per kg berat badannya.  Sebagai contoh, anak yang berat badannya 15 kg misalnya membutuhkan 30 gram atau seharga sekitar Rp 30 juta. Penderita juga diberikan asam salisilat untuk mencegah kerusakan jantung dan sumbatan pembuluh koroner.</li>
<li>Jika tidak ada komplikasi anak dapat dipulangkan dalam beberapa hari. Pada kasus yang terlambat dan sudah terjadi kerusakan pembuluh koroner perlu rawat inap yang lebih lama dan pengobatan yang intensif guna mencegah kerusakan jantung lebih lanjut.</li>
<li>Jika dengan obat-obatan tidak berhasil, kadang diperlukan operasi pintas koroner (<em>coronary bypass</em>)  atau bahkan, meskipun sangat jarang, transplantasi jantung. Kematian dapat terjadi pada 1-5 persen penderita yang umumnya terlambat ditangani dan puncaknya terjadi pada 15-45 hari setelah awal timbulnya demam. Meskipun demikian, kematian mendadak dapat terjadi bertahun-tahun setelah fase akut. PK juga dapat merusak katup jantung (terutama katup mitral) yang dapat menimbulkan kematian mendadak beberapa tahun kemudian. Kemungkinan kambuhnya penyakit ini adalah sekitar 3 persen.</li>
<li>Pada penderita yang secara klinis telah sembuh total sekalipun, dikatakan pembuluh koronernya akan mengalami kelainan pada lapisan dalam yang memudahkan terjadinya penyakit jantung koroner pada usia dewasa muda kelak. Jika ditemukan serangan jantung koroner akut pada dewasa muda, mungkin perlu dipikirkan kemungkinan pernah terkena PK saat masih anak-anak. Kiranya kita semua perlu mewaspadai penyakit ini agar tidak menimbulkan korban lebih lanjut.</li>
</ul>
<p><strong>Komplikasi dan penyulit</strong></p>
<ul>
<li>Sebagian besar penyakit ini akan sembuh sendiri. Tetapi pada beberapa kasus, dapat timbul berbagai macam komplikasi, misalnya peradangan sendi (arthritis), peradangan selaput otak (meningitis), dll.</li>
<li>Komplikasi lain yang biasanya fatal adalah komplikasi jantung. Pada jantung, penyakit Kawasaki menyebabkan peradangan otot jantung (miokarditis), pembesaran ukuran jantung (kardiomegali), denyut jantung tidak normal (aritmia), dan peradangan pembuluh darah koroner (vaskulitis).</li>
</ul>
<p><strong>Prognosis</strong></p>
<ul>
<li>Penyembuhan biasanya sempurna pada penderita yang tidak menderita vaskulitis koroner. Serangan kedua jarang sekali terjadi.</li>
<li>Angka kematian Penyakit Kawasaki di jepang 0,08% – 1-2%. Semua anak yang menderita Penyakit Kawasaki meninggal karena komplikasi jantung, biasanya dalam 1-2 bulan sejak timbulnya penyakit.</li>
<li>Aneurisma koroner dapat dijumpai pada sekitar 20-49% kasus dan kurang dari 5% menjadi infark miokard.</li>
</ul>
<p><strong>Kepustakaan : </strong></p>
<ol>
<li>Rowley AH, Shulman ST, Kawasaki Disease in Behrman RE, Kliegman R, Arvin AR editor, nelson texbook of Pediatrics 17<sup>th</sup> edition, Philadelphia 2004: 823-4</li>
<li>Treadwell TA, Maddox RA, Holman RC, Belay ED, Shahriari A, Anderson MS, et al. Investigation of Kawasaki syndrome risk factors in Colorado. <em>Pediatr Infect Dis J</em>. Oct 2002;21(10):976-8. [MedlinPannaraj PS, Turner CL, Bastian JF, Burns JC. Failure to diagnose Kawasaki disease at the extremes of the pediatric age range. <em>Pediatr Infect Dis J</em>. Aug 2004;23(8):789-91. <a href="http://www.medscape.com/medline/abstract/15295237">[Medline]</a>.</li>
<li>Newburger JW, Takahashi M, Gerber MA, Gewitz MH, Tani LY, Burns JC, et al. Diagnosis, treatment, and long-term management of Kawasaki disease: a statement for health professionals from the Committee on Rheumatic Fever, Endocarditis and Kawasaki Disease, Council on Cardiovascular Disease in the Young, American Heart Association. <em>Circulation</em>. Oct 26 2004;110(17):2747-71. <a href="http://www.medscape.com/medline/abstract/15505111">[Medline]</a>.</li>
<li>Newburger JW, et al, Diagnosis, treatment and long term Managementof Kawasaki Disease. A statement for health professionals from the Committee on Rheumatic Fever, Endocarditis and Kawasaki disease. Council of cardiovascular Disease in the young. American Heart Association , 2004</li>
<li>Parillo S. Pediatrics Kawasaki Disease, Medicine 2008  <a href="http://www.edmedicine.com/">http://www.edmedicine.com</a></li>
</ol>
<p><strong>Supported  by<br />
<em>CLINIC FOR CHILDREN</em></strong></p>
<p><strong>Yudhasmara Foundation</strong></p>
<p><strong>JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010</strong></p>
<p><strong>phone : 62(021) 70081995 – 5703646</strong></p>
<p><a href="http://childrenclinic.wordpress.com/"><strong>http://childrenclinic.wordpress.com/</strong></a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Clinical and Editor in Chief :</strong></p>
<p><strong>DR WIDODO JUDARWANTO</strong></p>
<p><strong>email : </strong><a href="mailto:judarwanto@gmail.com"><strong>judarwanto@gmail.com</strong></a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.</strong></p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/feverclinic.wordpress.com/374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/feverclinic.wordpress.com/374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/feverclinic.wordpress.com/374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/feverclinic.wordpress.com/374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/feverclinic.wordpress.com/374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/feverclinic.wordpress.com/374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/feverclinic.wordpress.com/374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/feverclinic.wordpress.com/374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/feverclinic.wordpress.com/374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/feverclinic.wordpress.com/374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/feverclinic.wordpress.com/374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/feverclinic.wordpress.com/374/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/feverclinic.wordpress.com/374/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/feverclinic.wordpress.com/374/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=374&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feverclinic.wordpress.com/2009/08/17/waspadai-penyakit-kawazaki-kawazaki-disease/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6debdeb22f6b0399ef2901158cc415a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cfc</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.daviddarling.info/images/Kawasaki_disease.gif" medium="image" />

		<media:content url="http://img.medscape.com/pi/emed/ckb/emergency_medicine/756148-804960-580.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Pediatrics, Kawasaki disease. Note the appearance...</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://www.aafp.org/afp/20061001/1141-f1.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://anabolicsteroidsbuysteroids.files.wordpress.com/2009/07/pulsed-steroid-therapy-in-kawasaki-disease-treatment.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.lib.uiowa.edu/hARDIN/MD/pictures22/dermnet/kawasaki982.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.lib.uiowa.edu/hardin/md/pictures22/dermnet/kawasakisyndrome9874.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.lib.uiowa.edu/HARDIN/md/pictures22/dermnet/kawasaki98.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.lib.uiowa.edu/HARDIN/MD/pictures22/dermnet/kawasaki987.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.chw.edu.au/parents/factsheets/img_kawasaki_disease.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://2.bp.blogspot.com/_CS7LtAXAYbU/SZordv_PLpI/AAAAAAAAAUc/FzE5M4yMG8Y/s400/kawasaki-disease-05.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.lib.uiowa.edu/HARDIN/MD/pictures22/dermnet/14postinfdesquam.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://3.bp.blogspot.com/_CS7LtAXAYbU/SZordbyxJdI/AAAAAAAAAUE/UJ7SgtboG8Y/s400/kawasaki-disease-02.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://4.bp.blogspot.com/_CS7LtAXAYbU/SZorsri5e5I/AAAAAAAAAUk/GPMcaV7WNiI/s400/kawasaki-disease-06.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://1.bp.blogspot.com/_CS7LtAXAYbU/SZordlHGa2I/AAAAAAAAAUU/Pp_CI6Uom_o/s400/kawasaki-disease-04.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://intinusantara.files.wordpress.com/2008/08/kawasaki-det.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://2.bp.blogspot.com/_-WsaCfPPjYQ/SF8jioL-xRI/AAAAAAAAAs0/IHP0cqXb1Jg/s400/Kawasaki_disease.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.clevelandclinicmeded.com/medicalpubs/diseasemanagement/cardiology/mitral-valve-disease/images/mitralvalvefig1_large.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/thumb/2/2f/Verkalkte_aneurysmatische_Coronarien.jpg/190px-Verkalkte_aneurysmatische_Coronarien.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://img.medscape.com/fullsize/migrated/584/693/jem584693.fig8.jpg" medium="image" />

		<media:content url="http://www.heartpearls.com/wp-content/uploads/2009/04/image-upload-55-709345.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">Echocardiogram in parasternal short axis view showing coronary aneurysm in Kawasaki disease</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FLU BURUNG PADA MANUSIA</title>
		<link>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/31/flu-burung-pada-manusia/</link>
		<comments>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/31/flu-burung-pada-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 08:31:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The Children Indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[infeksi virus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://feverclinic.wordpress.com/?p=364</guid>
		<description><![CDATA[  Departemen Kesehatan Indonesia telah mengidentifikasi adanya infeksi flu burung pada seorang penderita di kota Tangerang. Penemuan ini telah dikuatkan oleh pemeriksaan laboratorium resmi WHO di Hongkong. Hal ini merupakan penemuan penderita flu burung pada manusia yang pertama kali di Indonesia. Setahun sebelumnya, tepatnya tanggal 25 Januari 2004 Departemen Pertanian telah mengumumkan secara resmi, terjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=364&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><img src="http://noscadgie.files.wordpress.com/2009/01/burung-h5n1.jpg?w=147&#038;h=178" alt="" width="147" height="178" /> </strong></p>
<p>Departemen Kesehatan Indonesia telah mengidentifikasi adanya infeksi flu burung pada seorang penderita di kota Tangerang. Penemuan ini telah dikuatkan oleh pemeriksaan laboratorium resmi WHO di Hongkong. Hal ini merupakan penemuan penderita flu burung pada manusia yang pertama kali di Indonesia. Setahun sebelumnya, tepatnya tanggal 25 Januari 2004 Departemen Pertanian telah mengumumkan secara resmi, terjadi pertama kali kasus avian influenza menyerang unggas di Indonesia.        </p>
<p>Flu burung atau flu unggas  juga sering dikenal sebagai avian influenza, pada umumnya tidak menyerang manusia. Beberapa tipe terbukti dapat menyerang manusia atau suatu tipe tertentu dapat mengalami mutasi lebih ganas dan menyerang manusia. Penyakit mematikan ini telah menjadi pandemi di dunia. Mulai timbul kepanikan di beberapa negara ketika  wabah tersebut menyebabkan kematian yang sangat cepat dengan tingkat kematian (Case Fatality Rate) lebih dari 80% .</p>
<p>Penyakit flu burung tercatat pertama kali diidentifikasi di Italia lebih dari 100 tahun lalu. Pada mulanya, penyakit ini adalah penyakit hewan yang menyerang bangsa unggas. Flu burung atau sampar unggas (fowl plaque) adalah penyakit virus yang menyerang berbagai jenis unggas, meliputi ayam, kalkun, merpati, unggas air, burung-burung piaraan, hingga ke burung-burung liar. Virus ini juga didapatkan pada babi, kuda, dan binatang laut menyusui seperti ikan paus dan anjing laut. Terakhir terungkap virus H5N1 ini telah diidentifikasi pada harimau, kucing dan macan tutul. Sebelumnya binatang ini tidak dianggap sebagai bianatang yang dapat dicemari virus flu burung.  Babi juga dapat tertular dan sebagai perantara penularan ke manusia. Belakangan terungkap virus bukan hanya menempel di kulit, tetapi dibiakkan dan bermutasi di peredaran darah binatang babi.</p>
<p><strong>Penyebab dan Cara Penularan pada Manusia</strong></p>
<p>Penyebab burung pada bangsa unggas itu adalah virus influenza tipe A. Virus menakutkan ini adalah termasuk family Orthomyxoviridae  dari genus Influenza. Ukuran diameter Virions adalah   80 hingga 120 nm yang berbentuk filament. Susunan virus terdiri dari 8 segmen berbeda dari  “negative-stranded RNA”. Subtipe H5 dan H7 virus flu burung adalah yang menyebabkan wabah dengan tingkat kematian tinggi (patogenik). Hanya ada satu galur dari virus flu burung yang tingkat kemampuan mematikannya tinggi atau high-pathogenic avian influenza (HPAI) H5N1 yang dapat menginfeksi manusia (zoonosis).  Menurut beberapa ahli flu burung lebih berbahaya dari SARS. Karena kemampuan virus yang mampu membangkitkan hampir keseluruhan respon bunuh diri dalam sistem imunitas tubuh manusia.</p>
<p>Dari hasil studi yang ada menunjukkan, unggas yang sakit oleh Influenza A atau virus H5N1 dapat mengeluarkan virus dengan jumlah besar dalam kotorannya. Virus itu dapat bertahan hidup di air sampai empat hari pada suhu 22 derajad celcius dan lebih dari 30 hari pada nol derajad celcius. Di dalam kotoran dan tubuh unggas yang sakit, virus dapat bertahan lebih lama. Virus ini mati pada pemanasan 56 derajat Celcius dalam 3 jam atau 60 derajad celcius selama 30 menit. Bahan disinfektan fomalin dan iodine dapat membunuh virus menakutrkan ini.</p>
<p>Virus flu burung hidup di dalam saluran pencernaan unggas. Burung yang terinfeksi virus akan mengeluarkan virus ini melalui saliva (air liur), cairan hidung, dan kotoran. Avian Virus influenza avian dapat ditularkan terhadap manusia dengan 2 jalan. Pertama kontaminasi langsung dari lingkungan burung terinfeksi yang mengandung virus kepada manusia. Cara lain adalah lewat perantara binatang babi.  Penularan diduga terjadi dari kotoran secara oral atau melalui saluran pernapasan.  Flu burung  dapat menyebar dengan cepat diantara populasi unggas dengan kematian yang tinggi. Penyakit ini dapat juga menyerang manusia, lewat udara yang tercemar virus itu. Belum ada bukti terjadinya penularan dari manusia ke manusia. Juga belum terbukti adanya penularan pada manusia lewat daging yang dikonsumsi. Orang yang mempunyai resiko besar untuk terserang flu burung  adalah pekerja peternakan unggas, penjual dan penjamah unggas. Sebagian besar kasus manusia telah ditelusuri pada kontak langsung dengan ayam yang sakit</p>
<p><strong>Manifestasi Klinis </strong></p>
<p>Tampilan klinis manusia yang terinfeksi flu burung menunjukkan gejala seperti terkena flu biasa. Diawali dengan demam, nyeri otot, sakit tenggorokan, batuk dan sesak napas. Adanya kontak dalam 7 hari terakhir dengan unggas di peternakan terutama jika unggas tersebut menderita sakit atau mati. Dalam perkembangannya kondisi tubuh sangat cepat menurun drastis. Bila tidak segera ditolong, korban bisa meninggal karena berbagai komplikasi. Komplikasi yang mengancam jiwa adalah mengakibatkan gagal napas dan gangguan fungsi tubuh  lainnya.</p>
<p>Flu burung banyak menyerang anak-anak di bawah usia 12 tahun. Hampir separuh kasus flu burung pada manusia menimpa anak-anak, karena sistem kekebalan tubuh anak-anak belum begitu kuat. Masa inkubasi penyakit, dimana saat mulai terpapar virus hingga mulai timbul gejala sekitar 3 hari.  Sebagian besar penderita mengalami produksi dahak yang meningkat, di antaranya dahak bercampur darah. Diare dialami oleh sebagian besar penderita. Semua penderita mengalami kelainan pada pemeriksaan hasil foto roentgen saat pertama kali masuk Rumah Sakit. Semua penderita menunjukkan limpopenia dan sebagian besar penderita mengalami trombositopeni..</p>
<p>Diagnosis ditegakkan dengan melakukan pemeriksaan laboratorium. Dikatakan diduga mengalami infeksi virus influenza A(H5N1)  atau Probable Case, bila didapatkan  antibodi spesifik spesimen serum. Diagnosis Pasti bila hasil biakan virus positif Influenza A (H5N1) atau hasil pemeriksaan PCR positif untuk influenza H5. Peningkatan titer antibodi spesifik H5 sebesar &gt; 4 kali dan hasil dengan IFA positif untuk antigen H5 juga merupakan petanda diagnosis pasti. Menurut kesepakatan  internasional, serangan virus flu burung baru dipastikan setelah ada hasil pemeriksaan dari laboratorium rujukan WHO</p>
<h1>Pengobatan dan Pencegahan</h1>
<p>Seperti penyakit virus lainnya, sebenarnya penyakit ini belum ada obat yang efektif. Penderita hanya akan diberi untuk meredakan gejala yang menyertai penyakit flu itu, seperti demam, batuk atau pusing. Obat-obatan itu hanya meredam gejalanya, tapi tidak mengobati.  Tetapi Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat telah merekomendasikan 4 jenis obat antiviral untuk pengobatan dan pencegahan influenza A.  Jenis obat tersebut diantaranya adalah M2 inhibitors (amantadine and rimantadine) dan neuraminidase inhibitors (oseltamivir and zanimivir). Kadangkala beberapa galur virus influenza menjadi resisten terhadap satu atau lebih jenis obat tersebut. Misalnya, virus influenza A (H5N1) yang berhasil diidentifikasi dari penderita di Asia tahun 2004 – 2005 ternyata resisten terhadap obat amantadine dan rimantadine.</p>
<p>Orang yang berisiko mendapat flu burung atau yang terpajan harus mendapat pencegahan dengan oseltamivir 75 mg dosis tunggal selama 1 minggu.<br />
Jika vaksin untuk flu burung ini telah tersedia, dapat diberikan pada semua orang yang diduga kontak dengan unggas atau peternakan unggas yang terinfeksi dengan avian influenza (H5N1). Orang yang diindikasikan kontak khususnya orang yang bertugas memisahkan unggas yang sakit atau yang terlibat dalam pemusnahan unggas dan orang yang hidup dan bekerja di peternakan unggas dimana telah dilaporkan terdapat/dugaan H5N. Tenaga kesehatan yang menangani kasus influenza H5N1 pada manusia dan tenaga kesehatan yang bekerja pada sarana pelayanan darurat di daerah terjadinya influenza H5N1 pada burung juga dianggap orang yang beresiko.</p>
<p>Sejauh ini belum ditemukan vaksin yang dapat mencegah penyakit flu burung galur H5N1 pada manusia. Beberapa ahli di berbagai negara maju telah melakukan penelitian untuk menemukan vaksin untuk tersebut. WHO bersama Global Influenza Surveillance Network saat ini mengembangkan prototip virus  H5N1 untuk mengungkap lebih jauh penemuan vaksin tersebut.  Hingga sekarang belum ada vaksin yang tepat untuk influenza, termasuk avian influenza. Karena waktu perubahan mutasi virus sangat singkat yakni dalam kurun waktu tiga tahun. Perubahan cepat model virus inilah yang menyebabkan para peneliti kesulitan untuk menemukan antiviral yang efektif jangka panjang. Vaksin prototip virus yang telah ditemukan dan dikembangkan tahun 2003  ternyata tidak dapat digunakan lagi. Pada evaluasi awal  tahun 2004 ternyata virus telah bermutasi secara bermakna.</p>
<p>Pencegahan umum penyakit ini adalah mengurangi kontaminasi dengan binatang, bahan dan alat yang dicurigai tercemar virus. Tahapan Kewaspadaan Universal Standar perlu dilakukan untuk tindakan tersebut. Diantaranya adalah cuci tangan dilakukan di bawah air mengalir dengan menggunakan sabun dan sikat selama kurang lebih 5 menit, yaitu dengan menyikat seluruh permukaan telapak tangan maupun punggung tangan. Hal ini dilakukan sebelum dan sesudah memeriksa penderita atau kontak dengan unggas yang dicurigai terinfeksi. Pakaian yang digunakan adalah pakaian bedah atau pakaian sekali pakai. Memakai masker N95 atau minimal masker bedah.Menggunakan pelindung wajah/kaca mata goggle, apron/gaun pelindung, sarung tangan, pelindung kaki atau sepatu boot.</p>
<p>Menghadapi masalah timbulnya flu burung di Indonesia, sebaiknya masyarakat tidak terlalu panik. Masyarakat dalam beberapa tahun terakhir ini telah menghadapi banyak cobaan masalah kesehatan yang tidak kalah ganasnya , seperti DBD, SARS dan Poliomielitis. Berbekal pengalaman itu, dengan kewaspadaan, tawakal dan berusaha keras menggunakan pola hidup sehat, ternyata keadaan yang mengkawatirkan itu akhirnya dapat dilalui.</p>
<p>Daftar Pustaka</p>
<ol>
<li>Henzler DJ, Kradel DC, Davison S, Ziegler AF, Singletary D, DeBok P, Castro AE, Lu H, Eckroade R, Swayne D, Lagoda W, Schmucker B, Nesselrodt A. 2003. Epidemiology, production losses, and control measures associated with an outbreak of avian influenza subtype H7N2 in Pennsylvania (1996–98). <em>Avian Diseases</em> 47(Suppl 3):1022–1036.</li>
<li>Kobasa D, Takada A, Shinya K, Hatta M, Halfmann P, Theriault S, Suzuki H, Nishimura H, Mitamura K, Sugaya N, Usui T, Murata T, Maeda Y, Watanabe S, Suresh M, Suzuki T, Suzuki Y, Feldmann H, Kawaoka Y. 2004. Enhanced virulence of influenza A viruses with the haemagglutinin of the 1918 pandemic virus. <em>Nature</em> 431(7009):703–707.</li>
<li>Neuraminidase Inhibitor Susceptibility Network. 2004. NISN statement on antiviral resistance in influenza viruses. <em>Weekly Epidemiological Record</em> 79(33):306–308.</li>
<li>Simonsen L, Fukuda K, Schonberger LB, Cox NJ. 2000. The impact of influenza epidemics on hospitalizations. <em>Journal of Infectious Diseases</em> 181(3):831–837.</li>
<li>Snacken R, Kendal AP, Haaheim LR, Wood JM. 1999. The next influenza pandemic: Lessons from Hong Kong, 1997. <em>Emerging Infectious Diseases</em> 5(2):195–203.</li>
<li>Stevens J, Corper AL, Basler CF, Taubenberger JK, Palese P, Wilson IA. 2004. Structure of the uncleaved human H1 hemagglutinin from the extinct 1918 influenza virus. <em>Science</em> 303(5665):1866–1870.</li>
<li>Kuiken T et al (2004), <em>Avian H5N1 Influenza in Cats</em>, Science 2004 306: 241</li>
</ol>
<p><strong>Supported  by</strong><strong><br />
</strong><strong><em>CLINIC FOR CHILDREN</em></strong><strong></strong></p>
<p><strong>Yudhasmara Foundation</strong><strong></strong></p>
<p><strong>JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010</strong></p>
<p><strong>phone : 62(021) 70081995 – 5703646</strong><strong></strong></p>
<p><a href="http://childrenclinic.wordpress.com/"><strong>http://childrenclinic.wordpress.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Clinical and Editor in Chief :</strong></p>
<p><strong>DR WIDODO JUDARWANTO</strong><strong></strong></p>
<p><strong>email : </strong><a href="mailto:judarwanto@gmail.com"><strong>judarwanto@gmail.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>                                                                                                             </strong></p>
<p>Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.<strong></strong></p>
<p align="center"><strong>Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/feverclinic.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/feverclinic.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/feverclinic.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/feverclinic.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/feverclinic.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/feverclinic.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/feverclinic.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/feverclinic.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/feverclinic.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/feverclinic.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/feverclinic.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/feverclinic.wordpress.com/364/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/feverclinic.wordpress.com/364/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/feverclinic.wordpress.com/364/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=364&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/31/flu-burung-pada-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6debdeb22f6b0399ef2901158cc415a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cfc</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://noscadgie.files.wordpress.com/2009/01/burung-h5n1.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>SKRENING FLU A : Deteksi Flu Babi dan Flu Burung denga SD Bio Line Influenza Ag</title>
		<link>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/29/skrening-flu-a-deteksi-flu-babi-dan-flu-burung-denga-sd-bio-line-influenza-ag/</link>
		<comments>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/29/skrening-flu-a-deteksi-flu-babi-dan-flu-burung-denga-sd-bio-line-influenza-ag/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 29 Jul 2009 01:00:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The Children Indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[flu babi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://feverclinic.wordpress.com/?p=358</guid>
		<description><![CDATA[Flu babi atau Influenza A (H1N1)) dan flu burung (H5N1) termasuk dalam kelompok virus influenza tipe A. Rapid tes SD Bioline Influenza Ag menjadi alat diagnosa cepat untuk membedakan apakah seseorang terkena virus influenza tipe A atau B. Penyediaan alat tersebut sangat penting, sehubungan dengan makin merebaknya kasus tersebut untuk membantu dalam melakukan screening suspect [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=358&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Flu babi atau Influenza A (H1N1)) dan flu burung (H5N1) termasuk dalam kelompok virus influenza tipe A. Rapid tes SD Bioline Influenza Ag menjadi alat diagnosa cepat untuk membedakan apakah seseorang terkena virus influenza tipe A atau B.</p>
<p>Penyediaan alat tersebut sangat penting, sehubungan dengan makin merebaknya kasus tersebut untuk membantu dalam melakukan screening suspect kasus influenza tersebut.</p>
<p>Jika dari hasil tes itu ternyata positif flu tipe A, maka ada kemungkinan bahwa pasien tersebut terinfeksi virus flu babi (H1N1) ataupun flu burung (H5N1). Sebab virus influensa tipe A memiliki beberapa subtipe yang ditandai adanya Hemagglutinin (H) dan Neuramidase (N). Ada 15 varian H dan 9 varian N.</p>
<p>Flu babi (Swine influenza) adalah influensa yang disebabkan oleh virus Orthomyxoviridae yang endemik pada populasi babi. Galur virus flu babi yang telah diisolasi sampai saat ini telah digolongkan sebagai subtipe genus Influenzavirus A. Flu babi menginfeksi manusia tiap tahun dan biasanya ditemukan pada orang-orang yang bersentuhan dengan babi, meskipun ditemukan juga kasus-kasus penularan dari manusia ke manusia.</p>
<p>Gejala virus termasuk demam, disorientasi, kekakuan pada sendi, muntah-muntah, dan kehilangan kesadaran yang berakhir pada kematian. Flu babi diketahui disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1, H1N2, H3N1, H3N2, dan H2N3. Di Amerika Serikat, hanya subtipe H1N1 lazim ditemukan di populasi babi sebelum tahun 1998. Namun sejak akhir Agustus 1998, subtipe H3N2 telah diisolasi juga dari babi.</p>
<p>Gejalan influensa ini mirip dengan influensa pada umumnya. Gejalanya seperti demam, batuk, sakit pada kerongkongan, sakit pada tubuh, kepala, panas dingin, dan lemah lesu. Beberapa penderita juga buang air besar dan muntah-muntah.</p>
<p>Penamaan jenis penyakit ini dianggap salah oleh berbagai kalangan, karena telah membuat salah tafsir masyarakat bahwa babi dapat menularkan penyakit ini kepada manusia. Untuk itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengganti nama penyakit ini dengan Influensa A (H1N1) mulai 30 April 2009 lalu.</p>
<p>Sedangkan flu burung (avian influenza) adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus yang biasanya menjangkiti burung dan mamalia. Penyebab flu burung adalah virus influensa tipe A yang menyebar antar unggas. Virus ini kemudian ditemukan mampu pula menyebar ke spesies lain seperti babi, kucing, anjing, harimau, dan manusia.</p>
<p>Virus influensa tipe A memiliki beberapa subtipe yang ditandai adanya Hemagglutinin (H) dan Neuramidase (N). Ada 15 varian H dan 9 varian N. Virus flu burung yang sedang berjangkit saat ini adalah subtipe H5N1 yang memiliki waktu inkubasi selama 3-5 hari. Burung liar dan unggas domestikasi (ternak) dapat menjadi sumber penyebar H5N1.</p>
<p>Virus ini dapat bertahan hidup pada suhu dingin. Bahan makanan yang didinginkan atau dibekukan dapat menyimpan virus. Tangan harus dicuci sebelum dan setelah memasak atau menyentuh bahan makanan mentah. Tidak selamanya jika tertular virus akan menimbulkan sakit. Namun demikian, hal ini dapat membahayakan di kemudian hari karena virus selalu bermutasi sehingga memiliki potensi patogen pada suatu saat.</p>
<p>Gejala umum yang dapat terjadi adalah demam tinggi, keluhan pernafasan dan (mungkin) perut. Replikasi virus dalam tubuh dapat berjalan cepat sehingga pasien perlu segera mendapatkan perhatian medis. Penanganan medis maupun pemberian obat dilakukan oleh petugas medis yang berwenang.</p>
<p>Obat-obatan yang biasa diberikan adalah penurun panas dan anti virus. Di antara antivirus yang dapat digunakan adalah jenis yang menghambat replikasi dari neuramidase (neuramidase inhibitor), antara lain Oseltamivir (Tamiflu) dan Zanamivir. Masing-masing dari antivirus tersebut memiliki efek samping dan perlu diberikan dalam waktu tertentu sehingga diperlukan opini dokter.</p>
<p>Prinsip kerja SD Bio Line Influenza Ag</p>
<p>Prinsip dan metode kerja rapid test ini adalah dengan menggunakan gold conjugate dan immuno chromatographic assay dimana hasil tes berupa garis tes dapat dilihat dengan mata langsung tanpa menggunakan alat bantu.</p>
<p>Tiap Box/kit terdiri dari :</p>
<p>- 25 test yang asing-masing dibungkus dengan kantong alumunium foil dengan desicant.<br />
- Control Swab<br />
- Positive Control Influenza Tipe A (Tipe H1N1 &amp; H3N2). Dalam 1 Box terdapat Positive Control Influenza Tipe A<br />
- Positive Control Influenza Tipe B. Dalam 1 Box terdapat 1 Positive Control Influenza Tipe B.<br />
- Negative Control Influenza (Streptococcus pyogenes). Dalam 1 box terdapat 1 Negative Control.</p>
<p>Sementara penggunaan dari alat-alat adalah:</p>
<ol>
<li>Assay diluent digunakan untuk melarutkan dan mengekstraksi specimen. Dalam 1 box terdapat 10 ml/botol.</li>
<li>Test Tube atau Rack Test Tube (Tabung Reaksi) untuk menyiapkan sampel dan pengujian. Dalam 1 Box terdapat 25 tabung reaksi dan 1 rak untuk tempat tabung reaksi.</li>
<li>Swab yang terbungkus plastik steril untuk mengoleksi specimen. Dalam 1 box terdapat 25 buah.</li>
<li>Pipet Palstik untuk memindahkan assay diluent. Dalam 1 box terdapat 25 dispossable dropp</li>
</ol>
<p>Rapid test ini memiliki sensitifitas yang tinggi yaitu 91,8% dan spesifisitas 98,9% yang dibandingkan biakan kultur dan RT PCR sebagai standar baku.</p>
<p>Cara penggunaan Rapid Test ini sangat sederhana<br />
1.Ambil spesimen baik berupa usapan (swab) dari tenggorokan atau hidung. Spesimen juga dapat diambil dari aspirate dari hidung maupun tenggorokan.<br />
2.Ambil assay diluent dalam botol dan masukkan dalam tabung reaksi sebanyak 300 ml (sampai batas garis hitam pada dropper/pipet yang telah disediakan)<br />
3.Masukkan usapan (swab) ke dalam tabung reaksi, aduk sedikitnya 5 kali<br />
4.Pindahkan swab sambil diputar di dinding tabung reaksi<br />
5.Masukkan alat test strip kedalam tabung reaksi (dengan tanda panah masuk terlebih dahulu)<br />
6.Tunggu 10-15 menit dan baca hasilnya</p>
<p>Jika muncul garis berwarna merah pada kolom paling kanan (Sebagai C (Control)) dan kolom paling kiri (dekat tanda panah) maka ini berarti positif Influenza Tipe A. Sedangkan Jika muncul garis berwarna merah pada kolom paling kanan (Sebagai C (Control)) dan kolom tengah ini berarti positif Influenza Tipe B. Perlu diperhatikan, jika dalam colom C tidak keluar garis maka hasil tes dinyatakan invalid. (<strong>Advetorial Indofarma</strong>).</p>
<p>Provided by<br />
<strong>children’s ALLERGY CLINIC</strong></p>
<p><strong>JL TAMAN BENDUNGAN ASAHAN 5 JAKARTA PUSAT, JAKARTA INDONESIA 10210</strong></p>
<p><strong>PHONE : (021) 70081995 – 5703646</strong></p>
<p><a href="http://www.childrenallergyclinic.wordpress.com/">htpp://www.childrenallergyclinic.wordpress.com/</a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Clinical and Editor in Chief :</strong></p>
<p><strong>DR WIDODO JUDARWANTO</strong><strong></strong></p>
<p><strong>email : </strong><a href="mailto:judarwanto@gmail.com"><strong>judarwanto@gmail.com</strong></a><strong>,</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.<strong></strong></p>
<p align="center"><strong>Copyright © 2009, Children Allergy Clinic Information Education Network. All rights reserved.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/feverclinic.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/feverclinic.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/feverclinic.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/feverclinic.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/feverclinic.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/feverclinic.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/feverclinic.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/feverclinic.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/feverclinic.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/feverclinic.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/feverclinic.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/feverclinic.wordpress.com/358/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/feverclinic.wordpress.com/358/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/feverclinic.wordpress.com/358/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=358&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/29/skrening-flu-a-deteksi-flu-babi-dan-flu-burung-denga-sd-bio-line-influenza-ag/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6debdeb22f6b0399ef2901158cc415a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cfc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMERIKSAAN PENUNJANG PADA PENDERITA KEJANG DEMAM</title>
		<link>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/17/pemeriksaan-penunjang-pada-penderita-kejang-demam/</link>
		<comments>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/17/pemeriksaan-penunjang-pada-penderita-kejang-demam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 01:02:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The Children Indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[kejang demam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://feverclinic.wordpress.com/?p=353</guid>
		<description><![CDATA[Penyebab kejang demam adalah gangguan ekstra cranial atau gangguan di luar isstem saraf pusat. Yang sering terjadi adalah infeksi yang menyebabkan demam.. Dalam beberapa  penelitian menunjukkan,  penyebab  demam pada kejang demam yang paling sering antara lain infeksi virus (tersering), otitis media, tonsilitis, ISK, gastroenteritis, infeksi paru2 (saluran napas bagian bawah), meningitis, dan pasca imunisasi. Beberapa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=353&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Penyebab kejang demam adalah gangguan ekstra cranial atau gangguan di luar isstem saraf pusat. Yang sering terjadi adalah infeksi yang menyebabkan demam.. Dalam beberapa  penelitian menunjukkan,  penyebab  demam pada kejang demam yang paling sering antara lain infeksi virus (tersering), otitis media, tonsilitis, ISK, gastroenteritis, infeksi paru2 (saluran napas bagian bawah), meningitis, dan pasca imunisasi.</p>
<p><strong>Beberapa pemeriksaan lanjutan hanya diperlukan jika didapatkan karakteristik khusus pada anak</strong>.</p>
<p><strong>Pungsi lumbar</strong></p>
<p>Pungsi lumbar adalah pemeriksaan cairan serebrospinal (cairan yang ada di otak dan kanal tulang belakang) untuk meneliti kecurigaan meningitis. Pemeriksaan ini dilakukan setelah kejang demam pertama pada bayi</p>
<ul>
<li>Memiliki tanda peradangan selaput otak (contoh : kaku leher)</li>
<li>Mengalami <em>complex partial seizure</em></li>
<li>Kunjungan ke dokter dalam 48 jam sebelumnya (sudah sakit dalam 48 jam sebelumnya)</li>
<li>Kejang saat tiba di IGD (instalasi gawat darurat)</li>
<li>Keadaan <em>post-ictal</em> (pasca kejang) yang berkelanjutan. Mengantuk hingga sekitar 1 jam setelah kejang demam adalah normal.</li>
<li>Kejang pertama setelah usia 3 tahun</li>
<li>Pada anak dengan usia &gt; 18 bulan, pungsi lumbar dilakukan jika tampak tanda peradangan selaput otak, atau ada riwayat yang menimbulkan kecurigaan infeksi sistem saraf pusat. Pada anak dengan kejang demam yang telah menerima terapi antibiotik sebelumnya, gejala meningitis dapat tertutupi, karena itu pada kasus seperti itu pungsi lumbar sangat dianjurkan untuk dilakukan.</li>
</ul>
<p><strong>EEG (<em>electroencephalogram</em>)</strong></p>
<p>EEG adalah pemeriksaan gelombang otak untuk meneliti ketidaknormalan gelombang. Pemeriksaan ini tidak dianjurkan untuk dilakukan pada kejang demam yang baru terjadi sekali tanpa adanya defisit (kelainan) neurologis. Tidak ada penelitian yang menunjukkan bahwa EEG yang dilakukan saat kejang demam atau segera setelahnya atau sebulan setelahnya dapat memprediksi akan timbulnya kejang tanpa demam di masa yang akan datang. Walaupun dapat diperoleh gambaran gelombang yang abnormal setelah kejang demam, gambaran tersebut tidak bersifat prediktif terhadap risiko berulangnya kejang demam atau risiko epilepsi.</p>
<p><strong>Pemeriksaan laboratorium</strong></p>
<p>Pemeriksaan seperti pemeriksaan darah rutin, kadar elektrolit, kalsium, fosfor, magnesium, atau gula darah tidak rutin dilakukan pada kejang demam pertama. Apalagi dalam penggalian riawayat penyakit sebelumnya tidak dicurigai peristiwa yang menunjukkan penyebab gangguan elektrolit dn gangguan guila darah pemeriksaan terebut hanya menghamburkan biaya. Pemeriksaan laboratorium harus ditujukan untuk mencari sumber demam, bukan sekedar sebagai pemeriksaan rutin.</p>
<p><em><strong>Neuroimaging</strong></em></p>
<p>Yang termasuk dalam pemeriksaan neuroimaging antara lain adalah CT-scan dan MRI kepala. Secara umum penderita kejang demam tidak memerlukan pemeriksaan CT scan atau MRI. Pemeriksaan tersebut dianjurkan bila anak menunjukkan kelainan saraf yang jelas, misalnya ada kelumpuhan, gamngguan kesadaran, gangguan  keseimbangan, sakit kepala yang berlebihan atau lingkar kepala kecil.</p>
<p><strong>Referensi</strong></p>
<ol>
<li>Baumann RJ. Technical Report: Treatment of the Child With Simple Febrile Seizures. Pediatrics 1999; 103:e 86</li>
<li>Provisional Committee on Quality Improvement, Subcommittee on Febrile Seizures. Practice parameter: The neurodiagnostic evaluation of the child with a first simple febrile seizure. AAP Policy 1996; 97:769-775 <a href="http://aappolicy.aappublications.org/cgi/content/abstract/pediatrics;97/5/769">http://aappolicy.aappublications.org/cgi/content/abstract/pediatrics;97/5/769</a></li>
</ol>
<p> </p>
<p><strong>Supported  by</strong><strong><br />
</strong><strong><em>CLINIC FOR CHILDREN</em></strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Yudhasmara Foundation</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010</strong></p>
<p><strong>phone : 62(021) 70081995 – 5703646</strong><strong></strong></p>
<p><a href="http://childrenclinic.wordpress.com/"><strong>http://childrenclinic.wordpress.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Clinical and Editor in Chief :</strong></p>
<p><strong>DR WIDODO JUDARWANTO</strong><strong></strong></p>
<p><strong>email : </strong><a href="mailto:judarwanto@gmail.com"><strong>judarwanto@gmail.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>                                                                                                             </strong></p>
<p>Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.<strong></strong></p>
<p align="center"><strong>Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/feverclinic.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/feverclinic.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/feverclinic.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/feverclinic.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/feverclinic.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/feverclinic.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/feverclinic.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/feverclinic.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/feverclinic.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/feverclinic.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/feverclinic.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/feverclinic.wordpress.com/353/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/feverclinic.wordpress.com/353/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/feverclinic.wordpress.com/353/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=353&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/17/pemeriksaan-penunjang-pada-penderita-kejang-demam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6debdeb22f6b0399ef2901158cc415a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cfc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KONTROVERSI TENTANG KEJANG DEMAM PADA ANAK</title>
		<link>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/17/kontroversi-tentang-kejang-demam-pada-anak/</link>
		<comments>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/17/kontroversi-tentang-kejang-demam-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 00:29:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The Children Indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[kejang demam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://feverclinic.wordpress.com/?p=345</guid>
		<description><![CDATA[Apakah anak mengalami gangguan otak atau menjadi bodoh karena mengalami kejang demam?  Gangguan pada otak sangat jarang terjadi pada kejang demam. Sehingga kekawatiran tentang anak menjadi bodoh dan tidak pintar setelah kejang tidak beralasan. Otak tidak akan rusak kecuali kejang berlangsung sangat lama, lebih dari 15-30 menit. Apakah anak akan mengalami kejang demam kembali? Kira-kira [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=345&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<ul>
<li>
<div style="margin:0 0 6pt;"><strong>Apakah anak mengalami gangguan otak atau menjadi bodoh karena mengalami kejang demam?</strong>  Gangguan pada otak sangat jarang terjadi pada kejang demam. Sehingga kekawatiran tentang anak menjadi bodoh dan tidak pintar setelah kejang tidak beralasan. Otak tidak akan rusak kecuali kejang berlangsung sangat lama, lebih dari 15-30 menit.</div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 0 6pt;"><strong>Apakah anak akan mengalami kejang demam kembali?</strong> Kira-kira 30% anak akan mengalami kejang demam kembali, terutama setahun kemudian.</div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 0 6pt;"><strong>Apakah anak akan mengalami epilepsi atau kejang tanpa demam di kemudian hari?</strong> Risikonya sangat kecil, hanya sekitar 2-12%.</div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 0 6pt;"><strong>Apakah kejang demam dapat mengancam jiwa?</strong> Kematian karena kejang demam tidak pernah dilaporkan.</div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 0 6pt;"><strong>Apakah kejang demam memerlukan CT scan atau MRI?</strong>  Secara umum penderita kejang demam tidak memerlukan pemeriksaan CT scan atau MRI. Pemeriksaan tersebut dianjurkan bila anak menunjukkan kelainan saraf yang jelas, misalnya ada kelumpuhan, gamngguan kesadaran, gangguan  keseimbangan, sakit kepala yang berlebihan atau lingkar kepala kecil.</div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 0 6pt;"><strong>Apakah kejang demam memerlukan EEG?</strong> Secara umum penderita kejang demam tidak memerlukan pemeriksaan EEG, kecuali pada beberapa keadaan yang khusus misalnya kejang demam sangat sering.</div>
</li>
<li>
<div style="margin:0 0 6pt;"><strong>Pemeriksaan cairan dari punggung (lumbal pungsi).</strong> Kadang sulit membedakan antara kejang demam dan meningitis (radang selaput otak) pada anak berumur kurang dari 18 bulan. Pada anak-anak ini sering harus dilakukan pengambilan cairan dari punggung untuk menyingkirkan kemungkinan meningitis.</div>
</li>
</ul>
<p>Referensi</p>
<ol>
<li>Baumann RJ. Technical Report: Treatment of the Child With Simple Febrile Seizures. Pediatrics 1999; 103:e 86</li>
<li>Committee on Quality Improvement<strong> </strong>and<strong> </strong>Subcommittee on Febrile Seizures<strong>. </strong>Practice Parameter: Long-term Treatment of the Child With Simple Febrile Seizures. Pediatrics 1999;103:1307-1309</li>
<li>Provisional Committee on Quality Improvement, Subcommittee on Febrile Seizures. Practice parameter: The neurodiagnostic evaluation of the child with a first simple febrile seizure. AAP Policy 1996; 97:769-775 http://aappolicy.aappublications.org/cgi/content/abstract/pediatrics;97/5/769</li>
<li>Acute Management of Infants and Children with Seizures. December 2004. <a href="http://www.health.nsw.gov.au/fcsd/rmc/cib/circulars/2004/cir2004-66.pdf">www.health.nsw.gov.au/fcsd/rmc/cib/circulars/2004/cir2004-66.pdf</a></li>
</ol>
<p style="margin:0 0 6pt;"> </p>
<p><strong>Supported  by</strong><strong><br />
</strong><strong><em>CLINIC FOR CHILDREN</em></strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Yudhasmara Foundation</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010</strong></p>
<p><strong>phone : 62(021) 70081995 – 5703646</strong><strong> </strong></p>
<p><a href="http://childrenclinic.wordpress.com/"><strong>http://childrenclinic.wordpress.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Clinical and Editor in Chief :</strong></p>
<p><strong>DR WIDODO JUDARWANTO</strong><strong></strong></p>
<p><strong>email : </strong><a href="mailto:judarwanto@gmail.com"><strong>judarwanto@gmail.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>                                                                                                             </strong></p>
<p>Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.<strong></strong></p>
<p align="center"><strong>Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.</strong></p>
<p style="margin:0 0 6pt;"> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/feverclinic.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/feverclinic.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/feverclinic.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/feverclinic.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/feverclinic.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/feverclinic.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/feverclinic.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/feverclinic.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/feverclinic.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/feverclinic.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/feverclinic.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/feverclinic.wordpress.com/345/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/feverclinic.wordpress.com/345/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/feverclinic.wordpress.com/345/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=345&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/17/kontroversi-tentang-kejang-demam-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6debdeb22f6b0399ef2901158cc415a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cfc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PENANGANAN DAN PENGOBATAN KEJANG DEMAM PADA ANAK</title>
		<link>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/17/penanganan-dan-pengobatan-kejang-demam-pada-anak/</link>
		<comments>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/17/penanganan-dan-pengobatan-kejang-demam-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 00:22:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The Children Indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[kejang demam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://feverclinic.wordpress.com/?p=343</guid>
		<description><![CDATA[PENANGANAN UMUM KEJANG DEMAM Jangan panik berlebihan. Jangan masukkan sendok atau jari ke mulut. Jangan memberi obat melalui mulut saat anak masih kejang atau masih belum sadar. Letakkan anak dalam posisi miring, buka celananya kemudian berikan diazepam melalui anus dengan dosis yang Sama. Bila masih kejang, diazepam dapat diulang lagi setelah 5 menit, sambil membawa [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=343&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PENANGANAN UMUM KEJANG DEMAM</strong></p>
<ul>
<li>Jangan panik berlebihan.</li>
<li>Jangan masukkan sendok atau jari ke mulut.</li>
<li>Jangan memberi obat melalui mulut saat anak masih kejang atau masih belum sadar.</li>
<li>Letakkan anak dalam posisi miring, buka celananya kemudian berikan diazepam melalui anus dengan dosis yang Sama.</li>
<li>Bila masih kejang, diazepam dapat diulang lagi setelah 5 menit, sambil membawa anak ke rumah sakit.</li>
<li>Bila anak demam tinggi, usahakan untuk menurunkan suhu tubuh anak anda dengan mengkompres tubuh anak dengan air hangat atau air biasa, lalu berikan penurun demam bila ia sudah sadar.</li>
<li>Jangan mencoba untuk menahan gerakan-gerakan anak pada saat kejang, berusahalah untuk tetap tenang.</li>
<li>Kejang akan berhenti dengan sendirinya. Amati berapa lama anak anda kejang.</li>
<li>Ukurlah suhu tubuh anak anda pada saat itu, hal ini bisa menjadi pegangan anda untuk mengetahui pada suhu tubuh berapa anak anda akan mengalami kejang.</li>
<li>Hubungi petugas kesehatan jika kejang berlangsung lebih lama dari 10 menit.</li>
<li>Jika kejang telah berhenti, segeralah ke dokter untuk mencari penyebab dan mengobati demam.</li>
</ul>
<p><strong>PENANGANAN KEJANG DEMAM SAAT DI RUMAH SAKIT</strong></p>
<ul>
<li>Memastikan jalan napas anak tidak tersumbat</li>
<li>Pemberian oksigen melalui <em>face mask</em></li>
<li>Pemberian diazepam 0,5 mg/kg berat badan per rektal (melalui anus) atau jika telah terpasang selang infus 0,2 mg/kg per infus</li>
<li>Pengawasan tanda-tanda depresi pernapasan</li>
<li>Sebagian sumber menganjurkan pemeriksaan kadar gula darah untuk meneliti kemungkinan hipoglikemia. Namun sumber lain hanya menganjurkan pemeriksaan ini pada anak yang mengalami kejang cukup lama atau keadaan pasca kejang (mengantuk, lemas) yang berkelanjutan .</li>
</ul>
<p>Berikut adalah tabel dosis diazepam yang diberikan :</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="501">
<tbody>
<tr>
<td>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0" width="500">
<tbody>
<tr>
<td colspan="3">
<p align="center">Terapi awal dengan diazepam</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">Usia</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">Dosis IV (infus)<br />
(0.2mg/kg)</td>
<td valign="top">
<p align="center">Dosis per rektal<br />
(0.5mg/kg)</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">&lt;&gt;</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">1–2 mg</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">2.5–5 mg</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">1–5 tahun</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">3 mg</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">7.5 mg</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">5–10 tahun</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">5 mg</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">10 mg</p>
</td>
</tr>
<tr>
<td valign="top">
<p align="center">&gt; 10 years</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">5–10 mg</p>
</td>
<td valign="top">
<p align="center">10–15 mg</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Jika kejang masih berlanjut :</p>
<ul>
<li>· Pemberian diazepam 0,2 mg/kg per infus diulangi. Jika belum terpasang selang infus, 0,5 mg/kg per rektal</li>
<li>· Pengawasan tanda-tanda depresi pernapasan</li>
</ul>
<p>Jika kejang masih berlanjut :</p>
<ul>
<li>Pemberian fenobarbital 20-30 mg/kg per infus dalam 30 menit atau fenitoin 15-20 mg/kg per infus dalam 30 menit.</li>
<li>Pemberian fenitoin hendaknya disertai dengan monitor EKG (rekam jantung).</li>
</ul>
<p>Jika kejang masih berlanjut, diperlukan penanganan lebih lanjut di ruang perawatan intensif dengan <em>thiopentone</em> dan alat bantu pernapasan.</p>
<p> </p>
<p>Pemberian obat-obatan jangka panjang untuk mencegah berulangnya kejang demam jarang sekali dibutuhkan dan hanya dapat diresepkan setelah pemeriksaan teliti oleh spesialis . Beberapa obat yang digunakan dalam penanganan jangka panjang adalah sebagai berikut.</p>
<ul>
<li>Antipiretik Antipiretik tidak mencegah kejang demam . Penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan dalam pencegahan berulangnya kejang demam antara pemberian asetaminofen setiap 4 jam dengan pemberian asetaminofen secara sporadis. Demikian pula dengan ibuprofen.</li>
<li>Diazepam . Pemberian diazepam per oral atau per rektal secara intermiten (berkala) saat onset demam dapat merupakan pilihan pada anak dengan risiko tinggi berulangnya kejang demam yang berat . Edukasi orang tua merupakan syarat penting dalam pilihan ini. Efek samping yang dilaporkan antara lain ataksia (gerakan tak beraturan), letargi (lemas, sama sekali tidak aktif), dan rewel. Pemberian diazepam juga tidak selalu efektif karena kejang dapat terjadi pada onset demam sebelum diazepam sempat diberikan . Efek sedasi (menenangkan) diazepam juga dikhawatirkan dapat menutupi gejala yang lebih berbahaya, seperti infeksi sistem saraf pusat.</li>
<li>Profilaksis (obat pencegahan) berkelanjutan. Efektivitas profilaksis dengan fenobarbital hanya minimal, dan risiko efek sampingnya (hiperaktivitas, hipersensitivitas) melampaui keuntungan yang mungkin diperoleh . Profilaksis dengan carbamazepine atau fenitoin tidak terbukti efektif untuk mencegah berulangnya kejang demam. Asam valproat dapat mencegah berulangnya kejang demam, namun efek samping berupa hepatotoksisitas (kerusakan hati, terutama pada anak berusia</li>
<li>Dari berbagai penelitian tersebut, satu-satunya yang dapat dipertimbangkan sebagai profilaksis berulangnya kejang demam hanyalah pemberian diazepam secara berkala pada saat onset demam, dengan dibekali edukasi yang cukup pada orang tua. Dan tidak ada terapi yang dapat meniadakan risiko epilepsi di masa yang akan datang .</li>
</ul>
<p> </p>
<p><strong>Pemberian obat anti kejang jangka panjang diberikan pada keadaan tertentu  seperti pada  kasus:</strong></p>
<ol>
<li>Kejang demam berlangsung lama lebih dari 15 menit.</li>
<li>Kejang demam hanya satu sisi tubuh, misalnya hanya kejang sebelah kiri.</li>
<li>Anak juga mengalami kelainan saraf yang jelas, misalnya ada kelumpuhan.</li>
<li>Indikasi yang tidak mutlak misalnya:
<ol>
<li>Bila kejang demam pertama terjadi pada umur kurang dari 1 tahun.</li>
<li>Bila kejang demam berulang, lebih dari satu kali dalam satu hari.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong>PENCEGAHAN KEJANG BERULANG</strong></p>
<ul>
<li>Paling baik memang apabila anak mengalami demam, lalu diberi obat untuk mencegah berulangnya kejang demam. Sayangnya tidak ada obat yang 100% dapat mencegah kejang demam bila diberikan saat anak mulai mengalami demam. Obat yang dapat digunakan adalah diazepam, yang dimakan selama demam, diberikan 3 kali sehari. Cara ini berhasil mengurangi risiko kejang demam sebanyak 20-44%.</li>
<li>Cara lain adalah memberikan diazepam melalui anus, saat anak mulai demam. Dosis diazepam adalah 5 mg untuk anak dengan berat badan kurang dari 10 kg dan 10 mg untuk anak dengan berat badan lebih dari 10 kg. Cara ini mungkin lebih efektif dibandingkan memberi diazepam yang dimakan.</li>
</ul>
<p><strong> Referensi</strong></p>
<ol>
<li>Baumann RJ. Technical Report: Treatment of the Child With Simple Febrile Seizures. Pediatrics 1999; 103:e 86</li>
<li><span lang="IN">Moyer</span><span lang="IN"> VA.</span><span lang="IN"> Evidence based management of seizures associated with fever. BMJ 2001;323:1111–4</span></li>
<li>Committee on Quality Improvement<strong> </strong>and<strong> </strong>Subcommittee on Febrile Seizures<strong>. </strong>Practice Parameter: Long-term Treatment of the Child With Simple Febrile Seizures. Pediatrics 1999;103:1307-1309</li>
<li>Provisional Committee on Quality Improvement, Subcommittee on Febrile Seizures. Practice parameter: The neurodiagnostic evaluation of the child with a first simple febrile seizure. AAP Policy 1996; 97:769-775 http://aappolicy.aappublications.org/cgi/content/abstract/pediatrics;97/5/769</li>
<li>Acute Management of Infants and Children with Seizures. December 2004. <a href="http://www.health.nsw.gov.au/fcsd/rmc/cib/circulars/2004/cir2004-66.pdf">www.health.nsw.gov.au/fcsd/rmc/cib/circulars/2004/cir2004-66.pdf</a></li>
</ol>
<p><strong>Supported  by</strong><strong><br />
</strong><strong><em>CLINIC FOR CHILDREN</em></strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Yudhasmara Foundation</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010</strong></p>
<p><strong>phone : 62(021) 70081995 – 5703646</strong><strong></strong></p>
<p><a href="http://childrenclinic.wordpress.com/"><strong>http://childrenclinic.wordpress.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Clinical and Editor in Chief :</strong></p>
<p><strong>DR WIDODO JUDARWANTO</strong><strong></strong></p>
<p><strong>email : </strong><a href="mailto:judarwanto@gmail.com"><strong>judarwanto@gmail.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>                                                                                                             </strong></p>
<p>Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.<strong></strong></p>
<p align="center"><strong>Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/feverclinic.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/feverclinic.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/feverclinic.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/feverclinic.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/feverclinic.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/feverclinic.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/feverclinic.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/feverclinic.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/feverclinic.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/feverclinic.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/feverclinic.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/feverclinic.wordpress.com/343/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/feverclinic.wordpress.com/343/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/feverclinic.wordpress.com/343/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=343&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/17/penanganan-dan-pengobatan-kejang-demam-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6debdeb22f6b0399ef2901158cc415a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cfc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEJANG DEMAM DAN EPILEPSI</title>
		<link>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/17/kejang-demam-dan-epilepsi/</link>
		<comments>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/17/kejang-demam-dan-epilepsi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 00:16:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The Children Indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[kejang demam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://feverclinic.wordpress.com/?p=341</guid>
		<description><![CDATA[Anak yang menderita kejang demam mungkin berkembang menjadi penderita epilepsi. Penelitian yang dilakukan oleh The American National Collaborative Perinatal Project mengidentifikasi 3 faktor resiko, yaitu : Adanya riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung Terdapat kelainan neurologis sebelum KD pertama Kejang demam bersifat kompleks (berlangsung lama atau fokal, atau multipel selama 1 hari Mereka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=341&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Anak yang menderita kejang demam mungkin berkembang menjadi penderita epilepsi. Penelitian yang dilakukan oleh The American National Collaborative Perinatal Project mengidentifikasi 3 faktor resiko, yaitu :</p>
<ol>
<li>Adanya riwayat epilepsi pada orang tua atau saudara kandung</li>
<li>Terdapat kelainan neurologis sebelum KD pertama</li>
<li>Kejang demam bersifat kompleks (berlangsung lama atau fokal, atau multipel selama 1 hari</li>
</ol>
<p>Mereka yang memiliki salah satu faktor resiko diatas kemungkinan menjadi epilepsi adalah 2%. Bila terdapat 2 atau lebih kemungkinan menjadi epilepsi adalah 10% . Bila tanpa faktor resiko diatas kemungkinannya adalah 1,6%.</p>
<p> </p>
<p><strong>Supported  by</strong><strong><br />
</strong><strong><em>CLINIC FOR CHILDREN</em></strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Yudhasmara Foundation</strong><strong></strong></p>
<p><strong>JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010</strong></p>
<p><strong>phone : 62(021) 70081995 – 5703646</strong><strong></strong></p>
<p><a href="http://childrenclinic.wordpress.com/"><strong>http://childrenclinic.wordpress.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Clinical and Editor in Chief :</strong></p>
<p><strong>DR WIDODO JUDARWANTO</strong><strong></strong></p>
<p><strong>email : </strong><a href="mailto:judarwanto@gmail.com"><strong>judarwanto@gmail.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>                                                                                                             </strong></p>
<p>Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.<strong></strong></p>
<p align="center"><strong>Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/feverclinic.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/feverclinic.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/feverclinic.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/feverclinic.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/feverclinic.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/feverclinic.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/feverclinic.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/feverclinic.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/feverclinic.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/feverclinic.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/feverclinic.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/feverclinic.wordpress.com/341/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/feverclinic.wordpress.com/341/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/feverclinic.wordpress.com/341/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=341&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/17/kejang-demam-dan-epilepsi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6debdeb22f6b0399ef2901158cc415a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cfc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>KEJANG DEMAM PADA ANAK</title>
		<link>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/17/kejang-demam-pada-anak/</link>
		<comments>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/17/kejang-demam-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 17 Jul 2009 00:10:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The Children Indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[kejang demam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://feverclinic.wordpress.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[Kejang Demam adalah keadaan yang paling dikawatirkan para orang tua saat anak mengalami demam yang tinggi. Kejang karena demam terebut seringkali terjadi pada usia anak tertentu.  Kejadian kejang demam pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun hampir 2 &#8211; 5%. Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu (suhu rektal lebih dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=336&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kejang Demam adalah keadaan yang paling dikawatirkan para orang tua saat anak mengalami demam yang tinggi. Kejang karena demam terebut seringkali terjadi pada usia anak tertentu.  Kejadian kejang demam pada anak usia 6 bulan sampai 5 tahun hampir 2 &#8211; 5%.</p>
<p>Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu (suhu rektal lebih dari 380C) yang disebabkan oleh suatu proses ekstrakranium (di luar rongga kepala). Menurut <em>Consensus Statement on Febrile Seizures (1980)</em>, kejang demam adalah suatu kejadian pada bayi atau anak yang biasanya terjadi antara umur 3 bulan dan 5 tahun berhubungan dengan demam tetapi tidak pernah terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi yang berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk. Kejang demam harus dibedakan dengan epilepsi, yaitu yang ditandai dengan kejang berulang tanpa demam.</p>
<p>Kejang demam merupakan kejang yang terjadi pada saat seorang bayi atau anak mengalami demam tanpa infeksi sistem saraf pusat. Kejang demam biasanya terjadi pada awal demam. Anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku, kelojotan dan memutar matanya. Anak tidak responsif untuk beberapa waktu, napas akan terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya. Setelah kejang, anak akan segera normal kembali. Kejang biasanya berakhir kurang dari 1 menit, tetapi walaupun jarang dapat terjadi selama lebih dari 15 menit.</p>
<p>Secara umum, Kejang Demam dapat dibagi dalam dua jenis yaitu :</p>
<ol>
<li>Simple febrile seizures (Kejang Demam Sederhana) : kejang menyeluruh yang berlangsung &lt; 15 menit dan tidak berulang dalam 24 jam.</li>
<li>Complex febrile seizures / complex partial seizures (Kejang Demam Kompleks) : kejang fokal (hanya melibatkan salah satu bagian tubuh), berlangsung &gt; 15 menit, dan atau berulang dalam waktu singkat (selama demam berlangsung).</li>
</ol>
<p>Ada beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya kejang demam berulang antara lain:</p>
<ul>
<li>Usia &lt; 15 bulan saat kejang demam pertama</li>
<li>Riwayat kejang demam dalam keluarga</li>
<li>Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam atau saat suhu sudah relatif normal</li>
<li>Riwayat demam yang sering</li>
<li>Kejang pertama adalah complex febrile seizure</li>
</ul>
<p align="justify">Faktor resiko kejang demam  yang penting adalah demam. Selain itu terdapat faktor riwayat kejang demam pada orang tua atau saudara kandung, perkembangan terlambat, problem pada masa neonatus, anak dalam perawatan khusus, dan kadar natrium rendah. Setelah kejang demam pertama kira kira 33% anak akan mengalami satu kali rekurensi (kekambuhan), dan kira kira 9 % anak  mengalami recurensi 3 kali atau lebih, resiko rekurensi meningkat dengan usia dini, cepatnya anak mendapat kejang setelah demam timbul, temperature yang rendah saat kejang, riwayat keluarga kejang demam, dan riwayat keluarga epilepsi. Jika kejang terjadi segera setelah demam atau jika suhu tubuh relatif rendah, maka besar kemungkinannya akan terjadi kembali kejang demam. Risiko berulangnya kejang demam adalah 10% tanpa faktor risiko, 25% dengan 1 faktor risiko, 50% dengan 2 faktor risiko, dan dapat mencapai 100% dengan 3 faktor risiko.</p>
<p align="justify">Hingga kini belum diketahui dengan pasti penyebab kejang demam. Demam sering disebabkan infeksi saluran pernafasan atas, radang telinga tengah, infeksi saluran cerna dan infeksi saluran kemih. Kejang tidak selalu timbul pada suhu yang tinggi. Kadang kadang demam yang tidak begitu tinggi dapat menyebabkan kejang.</p>
<p><strong>PENGARUH PADA TUBUH SAAT KEJANG TERJADI</strong></p>
<p>Kejang demam merupakan salah satu kelainan saraf yang paling sering dijumpai pada bayi  dan anak. Sekitar 2,2% hingga 5% anak pernah mengalami kejang demam sebelum mereka mencapai usia 5 tahun. Sampai saat ini masih terdapat perbedaan pendapat mengenai akibat yang ditimbulkan oleh penyakit ini namun pendapat yang dominan saat ini kejang  pada kejang demam tidak menyebabkan akibat buruk atau kerusakan pada otak namun kita tetap berupaya untuk menghentikan kejang secepat mungkin</p>
<p> </p>
<p>Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1 oC akan mengakibatkan kenaikan metabolisme basal 10% &#8211; 15% dan kebutuhan oksigen 20%. Akibatnya terjadi perubahan keseimbangan dari membran sel otak dan dalam waktu singkat terjadi difusi dari ion Kalium maupun ion Natrium melalui membran tadi, sehingga terjadi lepasnya muatan listrik.</p>
<p>Lepasnya muatan listrik yang cukup besar dapat meluas ke seluruh sel/membran sel di dekatnya dengan bantuan neurotransmiter, sehingga terjadi kejang. Kejang tersebut kebanyakan terjadi bersamaan dengan kenaikan suhu badan yang tinggi dan cepat yang disebabkan oleh infeksi di luar susunan saraf pusat, misalnya tonsilitis (peradangan pada amandel), infeksi pada telinga, dan infeksi saluran pernafasan lainnya.</p>
<p>Kejang umumnya berhenti sendiri. Begitu kejang berhenti, anak tidak memberi reaksi apapun untuk sejenak, tetapi beberapa detik/menit kemudian anak akan terbangun dan sadar kembali tanpa kelainan saraf. Kejang demam yang berlangsung singkat umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan gejala sisa. Tetapi kejang yang berlangsung lama (&gt; 15 menit) sangat berbahaya dan dapat menimbulkan kerusakan permanen dari otak.</p>
<p>Postur tonik (kontraksi dan kekakuan otot menyeluruh yang biasanya berlangsung selama 10-20 detik), gerakan klonik (kontraksi dan relaksasi otot yang kuat dan berirama, biasanya berlangsung selama 1-2 menit), lidah atau pipinya tergigit, gigi atau rahangnya terkatup rapat, inkontinensia (mengeluarkan air kemih atau tinja diluar kesadarannya), gangguan pernafasan, apneu (henti nafas), dan kulitnya kebiruan.</p>
<p><strong>PENANGANAN DAN TINDAKAN YNG HARUS DILAKUKAN</strong></p>
<p>Saat anak mengalami Kejang Demam, hal hal penting yang harus kita lakukan antara lain :</p>
<ul>
<li>Jika anak anda mengalami kejang demam, cepat bertindak untuk mencegah luka.</li>
<li>Letakkan anak anda di lantai atau tempat tidur dan jauhkan dari benda yang keras atau tajam</li>
<li>Palingkan kepala ke salah satu sisi sehingga saliva (ludah) atau muntah dapat mengalir keluar dari mulut</li>
<li>Jangan menaruh apapun di mulut pasien. Anak anda tidak akan menelan lidahnya sendiri.</li>
<li>Segera datangi rumah sakit atau dokter, terutama bila kejang terjadi saat pertama kali</li>
</ul>
<p>Referensi</p>
<ol>
<li>Committee on Quality Improvement<strong> </strong>and<strong> </strong>Subcommittee on Febrile Seizures<strong>. </strong>Practice Parameter: Long-term Treatment of the Child With Simple Febrile Seizures. Pediatrics 1999;103:1307-1309Baumann RJ. Technical Report: Treatment of the Child With Simple Febrile Seizures. Pediatrics 1999; 103:e 86</li>
<li><span lang="IN">Moyer</span><span lang="IN"> VA.</span><span lang="IN"> Evidence based management of seizures associated with fever. BMJ 2001;323:1111–</span></li>
<li>Provisional Committee on Quality Improvement, Subcommittee on Febrile Seizures. Practice parameter: The neurodiagnostic evaluation of the child with a first simple febrile seizure. AAP Policy 1996; 97:769-775 http://aappolicy.aappublications.org/cgi/content/abstract/pediatrics;97/5/769</li>
<li>Acute Management of Infants and Children with Seizures. December 2004. <a href="http://www.health.nsw.gov.au/fcsd/rmc/cib/circulars/2004/cir2004-66.pdf">www.health.nsw.gov.au/fcsd/rmc/cib/circulars/2004/cir2004-66.pdf</a></li>
</ol>
<p> </p>
<p><strong>Supported  by</strong><strong><br />
</strong><strong><em>CLINIC FOR CHILDREN</em></strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Yudhasmara Foundation</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010</strong></p>
<p><strong>phone : 62(021) 70081995 – 5703646</strong><strong> </strong></p>
<p><a href="http://childrenclinic.wordpress.com/"><strong>http://childrenclinic.wordpress.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Clinical and Editor in Chief :</strong></p>
<p><strong>DR WIDODO JUDARWANTO</strong><strong></strong></p>
<p><strong>email : </strong><a href="mailto:judarwanto@gmail.com"><strong>judarwanto@gmail.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>                                                                                                             </strong></p>
<p>Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.<strong></strong></p>
<p align="center"><strong>Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/feverclinic.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/feverclinic.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/feverclinic.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/feverclinic.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/feverclinic.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/feverclinic.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/feverclinic.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/feverclinic.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/feverclinic.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/feverclinic.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/feverclinic.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/feverclinic.wordpress.com/336/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/feverclinic.wordpress.com/336/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/feverclinic.wordpress.com/336/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=336&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/17/kejang-demam-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6debdeb22f6b0399ef2901158cc415a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cfc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>FLU BABI AKANKAH SEPERTI FLU BIASA ?</title>
		<link>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/14/flu-babi-akankah-menjadi-penyakit-flu-biasa/</link>
		<comments>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/14/flu-babi-akankah-menjadi-penyakit-flu-biasa/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 00:45:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The Children Indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[flu babi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://feverclinic.wordpress.com/?p=332</guid>
		<description><![CDATA[Penyebaran flu babi di Indonesia sangat mengkawatirkan dan sulit dibendung lagi. Di Indonesia telah terjadi peningkatan hampir 100% hanya dalam 1 bulan belakangan ini. Mengingat tingkat penyebarannya  yang sangat cepat sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memutuskan meningkatkan status flu babi menjadi pandemi. Artinya, penyebaran virus flu jenis H1N1 itu sudah mengancam secara global. Melihat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=332&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Penyebaran flu babi di Indonesia sangat mengkawatirkan dan sulit dibendung lagi. Di Indonesia telah terjadi peningkatan hampir 100% hanya dalam 1 bulan belakangan ini. Mengingat tingkat penyebarannya  yang sangat cepat sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memutuskan meningkatkan status flu babi menjadi pandemi. Artinya, penyebaran virus flu jenis H1N1 itu sudah mengancam secara global. Melihat kondisi kepadatan penduduk, tingkat mobilitas dan perilaku hidup masyarakat Indonesia tampaknya penyebarannya akan sangat cepat melebihi yang diduga sebelumnya. Benarkah flu babi sebuah ancaman penyakit yang sangat menakutkan dan sangat berbahaya ?</p>
<p>Kepanikan terhadap ancaman flu babi saat ini sangat wajar terjadi. Kepanikan mulai tampak, setiap hari dilaporkan oleh berbagai media tentang laporan dari berbagai kota dan berbagai rumah sakit tentang penderita yang dicurigai sebagai flu babi. Ketakutan itu juga melanda seluruh dunia. Terdapat kasus di suatu negara, terdapat satu penumpang sebuah pesawat yang mengalami demam seluruh penumpang di pesawat dikarantina selama seminggu. Kasus lain seorang yang dicurigai flu babi di sebuah hotel, akhirnya seluruh orang di hotel tersebut harus diisolasi. Banyak sekali laporan serupa yang menceriterakan kepanikan terhadap ancaman flu babi dari berbagai belahan dunia.</p>
<p>Saat ini Departemen Kesehatan telah menyatakan dalam di Indonesia dalam keadaan status KLB (Kejadian Luar Biasa) untuk kasus penyakit Flu babi. Selanjutnya tidak bisa dihindari siapapun penyebaran penyakit ini tampaknya akan seperti flu biasa. Melihat karakteristik penyebarannya dalam suatu dekade tertentu perlahan tapi pasti penyakit ini akan menyatu dengan kehidupan msyarakat sehari-hari. Kepanikan dan beban psikologis masyarakat akan secara perlahan mencair begitu flu babi akan semakin sering masuk di telinga. Bukanlah hal yang mustahil nantinya flu babi akan mudah dijumpai di lingkungan masyarakat baik di mall, pasar, kantor, sekolah bahkan di rumah. Saat ini mungkin banyak rumah sakit enggan merawat penderita flu babi. Bahkan depkes telah menunjuk RS yang merawat flu babi hanya beberapa rumah sakit khusus.  Nantinya mungkin adalah hal yang biasa setiap rumah sakit atau puskesmas akan mempunyai dan merawat kasus flu babi. Saat ini begitu mendengar orang terkena flu babi akan diasingkan seperti penyakit paling berbahaya di dunia. Karena takutnya bahkan untuk memeriksa sampel darah penderita yang dicurigai flu babi, pemeriksa dari dinas kesehatan menggunakan baju ala astronot. Tetapi nantinya masyarakat akan terbiasa dan tidak menyadari bahwa flu yang baru dialami adalah flu babi.</p>
<p> </p>
<p><strong>Seperti Flu biasa</strong></p>
<p>Flu babi merupakan penyakit saluran napas yang disebabkan oleh virus influenza tipe A. Pada manusia, tanda dan gejala flu babi secara umum sama dengan influenza atau flu biasa. Gejala meliputi demam disertai menggigil, batuk, nyeri tenggorokan, nyeri otot dan tulang, sakit kepala, menggigil dan lemas atau letih.</p>
<p>Peningkatan kasus flu babi di Indonesia tampaknya sulit dibendung lagi. Bahkan WHO yang sebelumnya dengan segala daya upaya melakukan pencegahan akhirnya berpendapat, laju penyebaran flu babi di dunia sudah tidak mungkin lagi untuk dihentikan. Lantaran itu, lembaga kesehatan PBB tersebut menganjurkan pada sejumlah negara untuk selekasnya mengurangi sedikit demi sedikit kebijakan pencegahan yang super ketat. Disamping itu, WHO juga melihat, tingkat kematian (mortality rate) flu babi sangat rendah, hanya 0,4%. Bandingkan dengan flu burung yang tingkat kematiannya mencapai 80%. Bisa diartikan, tingkat bahaya flu babi sejatinya setera dengan flu musiman (seasonal flu) biasa dan jauh lebih ringan dibandingkan flu burung.</p>
<p>Sejumlah Negara mulai mengendurkan kewaspadan pada ancaman pandemi flu babi. Australia kini bahkan telah menghapuskan pengadaan <em>thermal scanner</em> (pengukur suhu tubuh) di bandara. Singapura bahkan tidak lagi memberikan obat jenis oseltamifir merek Tamiflu pada pasien flu babi dengan gejala ringan. Amerika Serikat bahkan memilih kebijakan untuk tidak lagi memberikan Tamiflu pada suspek dan pasien positif (confirm) flu babi. Pasalnya, virus H1N1 telah resisten (kebal) pada Tamiflu.</p>
<p>Kendati WHO menyatakan penyakit flu babi tidak lebih berbahaya dari flu biasa, Departemen Kesehatan memutuskan untuk tetap memperketat penjaringan pencegahan masuknya flu babi agar tidak cepat merembet lebih banyak ke Indonesia.</p>
<p> </p>
<p><strong>Bagaimana menyikapinya</strong></p>
<p>Melihat tingkat penyebaran flu babi yang demikian cepat, tampaknya masyarakat Indonesia tidak terhindarkan dari ancaman ini. Melihat fakta yang ada nantinya secara psikologis dan biologis masyarakat harus siap menerima dan menghadapinya. Kepanikan yang berlebihan seharusnya semakin berkurang karena bahaya flu babi hampir sama dengan flu biasa. Kekawatiran yang berlebihan akan menghilang karena nantinya sulit dihindari bahwa flu babi akan berdampingan dengan kehidupan masyarakat Indonesia. Kecemasan terhadap flu babi akan sirna karena penyakit ini 95% tidak memerlukan perawatan di rumah sakit, tidak memerlukan pengobatan khusus dan ancaman kematiannya tidak jauh berbeda dengan flu biasa.</p>
<p>Meskipun flu babi nantinya akan mirip flu biasa pencegahan yang baik harus tetap dilakukan. Pencegahan flu babi seperti pencegahan Influenza pada umumnya meliputi peningkatan higiena, sanitasi dan perilaku hidup bersih diri sendiri. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin untuk pencegahan flu babi. Vaksin yang biasa digunakan untuk influenza pada permulaan flu musiman tidak efektif untuk strain virus ini. Perilaku utama yang dapat mencegah penyebaran virus influaenza adalah melakukan cuci tangan sesering mungkin.  Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir beberapa kali dalam sehari. Keringkan tangan setelah dicuci. Jika tidak ada air, bisa menggunakan bahan pencuci tangan dari alkohol. Pemakaian masker paling tidak dapat mengurangi resiko penularan melalui udara.</p>
<p>            Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit ini sama seperti flu biasa, diantaranya adalah bronkitis, pnemoni (infeksi paru), infeksi telinga, sinusitis dan kematian. Komplikasi berat yang terjadi atau ancaman jiwa jiwa bisa terjadi pada kasus tertentu terutama pada penderita dengan daya tahan tubuh yang rendah atau buruk. Sehingga seseorang dengan daya tahan tubuh yang rentan harus lebih waspada. Diantaranya adalah penderita bronkitis, asma dan alergi, penderita yang mudah terserang flu, pernah mempunyai riwayat infeksi telinga, pnemonia atau sesak.  Penderita dengan tingkat kekebalan yang sangat buruk seperti penderita HIV, malnutrisi atau gizi buruk, penderita kelainan jantung bawaan, penyakit kanker dan kelainan darah. Laporan terakhir di Amerika Serikat menunjukkan penderita obesitas mempunyai resiko terjadi komplikasi lebih besar. Pada ibu hamil dan anak usia di bawah lima tahun khususnya dibawah usia 3 bulan sangat rentan daya tahan tubuhnya harus lebih waspada. Sehingga pemberian ASI ekslusif sangat relevan untuk mencegah terjadi infeksi ini terutama pada bayi di bawah usia 6 bulan. Selain itu resiko tingkat kematian lebih tinggi terjadi pada negara yang sarana layanan kesehatannya belum terlalu baik.</p>
<p>Melihat berbagai keadaan tersebut komplikasi atau ancaman jiwa sebenarnya hampir mendekati flu biasa. Keadaan tersebut dapat dihindari bila pada penderita dengan resiko tinggi tersebut harus segera mendapatkan perawatan segera di rumah sakit. Bila terjadi komplikasi yang berat seperti sesak, kejang atau penurunan kesadaran hendaknya dilakukan perawatan di rumah sakit yang sarananya lebih lengkap.</p>
<p>Dalam menghadapi flu babi kepanikan dan kekawatiran yang berlebihan tampaknya tidak harus dilakukan. Namun meskipun penyakit flu babi tidak seberbahaya yang kita duga selama ini tetap jangan diremehkan. Kewaspadaan dan pencegahan yang baik tampaknya adalah upaya yang dapat dilakuan dalam menghadapi ancaman flu babi yang tidak dapat dielakkan.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Supported  by</strong><strong><br />
</strong><strong><em>CLINIC FOR CHILDREN</em></strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Yudhasmara Foundation</strong><strong> </strong></p>
<p><strong>JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010</strong></p>
<p><strong>phone : 62(021) 70081995 – 5703646</strong><strong></strong></p>
<p><a href="http://childrenclinic.wordpress.com/"><strong>http://childrenclinic.wordpress.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Clinical and Editor in Chief :</strong></p>
<p><strong>DR WIDODO JUDARWANTO</strong><strong></strong></p>
<p><strong>email : </strong><a href="mailto:judarwanto@gmail.com"><strong>judarwanto@gmail.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>                                                                                                             </strong></p>
<p>Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider.<strong></strong></p>
<p align="center"><strong>Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/feverclinic.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/feverclinic.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/feverclinic.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/feverclinic.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/feverclinic.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/feverclinic.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/feverclinic.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/feverclinic.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/feverclinic.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/feverclinic.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/feverclinic.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/feverclinic.wordpress.com/332/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/feverclinic.wordpress.com/332/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/feverclinic.wordpress.com/332/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=332&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feverclinic.wordpress.com/2009/07/14/flu-babi-akankah-menjadi-penyakit-flu-biasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6debdeb22f6b0399ef2901158cc415a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cfc</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>AKHIRNYA DATANG JUGA, SELAMAT DATANG FLU BABI</title>
		<link>http://feverclinic.wordpress.com/2009/06/25/akhirnya-selamat-datang-flu-babi/</link>
		<comments>http://feverclinic.wordpress.com/2009/06/25/akhirnya-selamat-datang-flu-babi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 25 Jun 2009 19:19:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>The Children Indonesia</dc:creator>
				<category><![CDATA[flu babi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://feverclinic.wordpress.com/?p=324</guid>
		<description><![CDATA[dr Widodo Judarwanto SpA Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengumumkan, dua orang terindikasi positif mengidap flu babi (Swine influenza) di Indonesia, Rabu (24/6). Saat ini Depkes harus merawat dua orang yang positif flu babi. Pertama, seorang pilot warga negara Indonesia berumur 37 tahun. Setelah berkunjung ke Australia, pada 19 Juni masuk RSPI Sulianti Saroso. Kedua, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=324&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>dr Widodo Judarwanto SpA</strong></p>
<p>Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari mengumumkan, dua orang terindikasi positif mengidap flu babi (Swine influenza) di Indonesia, Rabu (24/6). Saat ini Depkes harus merawat dua orang yang positif flu babi. Pertama, seorang pilot warga negara Indonesia berumur 37 tahun. Setelah berkunjung ke Australia, pada 19 Juni masuk RSPI Sulianti Saroso. Kedua, warga negara Inggris yang bertandang ke Bali pada 19 Juni.</p>
<p>Setelah berharap cemas sekian lama masyarakat mengikuti informasi cepatnya penyebaran flu babi dari berbagai belahan dunia, akhirnya datang kabar buruk itu. Di Indonesia telah hadir penyakit yang paling ditakuti dunia saat ini. Memang kehadiran flu babi di Indonesia sebenarnya hanya menunggu waktu, mengingat tingkat penyebarannya  yang sangat cepat sehingga Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memutuskan meningkatkan status flu babi menjadi pandemi. Artinya, penyebaran virus flu jenis H1N1 itu sudah mengancam secara global. Hal ini harus dimaklumi karena sangat pesat dan cepatnya perkembangan transportasi dan perpindahan manusia ke berbagai penjuru dunia. Status pandemi flu babi ini adalah yang kedua dalam 41 tahun terakhir. WHO pernah menetapkan status serupa atas flu Hong Kong pada 1968 yang menewaskan sekitar satu juta manusia. Bandingkan dengan Flu biasa yang  rata-rata membunuh 25-500 ribu orang setiap tahun.<br />
Flu babi merupakan penyakit saluran napas yang sangat menular pada babi yang disebabkan oleh satu dari beberapa virus influenza A. Flu babi merupakan penyakit saluran napas dari babi yang disebabkan oleh virus influenza tipe A dan mempunyai dampak ekonomi luas pada industri babi di seluruh negara yang terjangkit. Wabah flu pada babi sering terjadi, khususnya selama musim dingin. Angka kesakitan dari flu babi sangat tinggi. Manusia umumnya tidak dapat terkena flu babi, namun infeksi pada manusia dapat terjadi. Umumnya, kasus flu babi pada manusia terjadi pada seseorang yang hidup di sekitar babi, namun virus flu babi dimungkinkan untuk menyebar dari manusia ke manusia.</p>
<p><strong>Penyebab<br />
</strong>Flu babi adalah influenza yang disebabkan oleh berbagai tipe virus influenza yang endemis pada babi. Strain endemik pada babi tersebut disebut swine influenza virus (SIV). Dari tiga genus Orthomyxoviridae yang endemik pada manusia, dua diantaranya juga endemik pada babi, Influenzavirus A (umum terjadi) atau influenzavirus C (jarang terjadi). Influenzavirus B tidak pernah dilaporkan pada babi. Pada influenzavirus A dan influenzavirus C, strain endemik pada babi dan manusia sangat berbeda. Galur virus flu babi yang telah diisolasi sampai saat ini telah digolongkan sebagai I nfluenzavirus C atau subtipe genus Influenzavirus A</p>
<p><strong>Manifestasi klinis</strong><br />
Pada manusia, tanda dan gejala flu babi secara umum sama dengan influenza dan penyakit mirip flu. Pada banyak kasus, strain yang menyebabkan wabah flu babi 2009 hanya menyebabkan gejala ringan.<br />
Berdasarkan Center for Disease Control and Prevention (CDC), gejala flu babi pada manusia sama dengan influenza pada umumnya. Gejala meliputi demam disertai menggigil, batuk, nyeri tenggorokan, nyeri otot dan tulang, sakit kepala, menggigil dan lemas atau letih. Beberapa pasien juga dilaporkan memiliki gejala diare dan muntah.<br />
Karena gejala-gejala ini tidak spesifik untuk flu babi, diagnosis banding dari kemungkinan flu babi tidak hanya dari gejala namun juga kecenderungan tinggi flu babi tersebut berdasarkan riwayat pasien saat ini. Misalnya, wabah flu babi di Meksiko, Amerika Serikat dan Australia pada 2009. CDC menyarankan pada para dokter untuk menganggap infeksi flu babi sebagai diagnosis banding pasien dengan gejala pada penyakit pernapasan akut yang pernah kontak dengan seseorang yang menderita flu babi. Diagnosis pasti flu babi memerlukan uji laboratorium melalui sampel dari usap hidung dan tenggorokan sederhana.</p>
<p><strong>Angka kejadian dan Penyebaran Penyakit</strong><br />
Pada 5 Februari 1976, tentara di Fort Dix, Amerika Serikat menyatakan dirinya kelelahan dan lemah, kemudian meninggal dunia keesokannya. Dokter menyatakan kematiannya itu disebabkan oleh virus ini sebagaimana yang terjadi pada tahun 1918. Presiden kala itu, Gerald Ford, diminta untuk mengarahkan rakyatnya disuntik dengan vaksin, namun rencana itu dibatalkan. Pada 20 Agustus 2007, virus ini menjangkiti seorang warga di pulau Luzon, Filipina.<br />
Virus babi influenza A pada manusia (H1N1) telah dilaporkan di seluruh dunia. Pada tahun 2009, kasus penyakit mirip influenza pertama kali dilaporkan di Meksiko pada 18 Maret; wabah ini dikonfirmasi sebagai virus babi influenza A. Penelitian dilanjutkan untuk mengklarifikasi penyebaran dan tingkat keparahan dari flu babi di Meksiko. Kasus klinis yang dicurigai dilaporkan di 19 dari 32 negara bagian. Walaupun hanya 18 orang Meksiko yang telah dikonfirmasi secara laboratorium sebagai influenzavirus A / H1N1 (12 diantaranya secara genetic identik dengan influenzavirus A / H1N1 dari California), sekitar 1.600 kasus dan 103 kematian terkena flu babi di Meksiko.</p>
<p>Penularan dari flu babi dapat terjadi melalui dua jalur. Jalur pertama melalui kontak dengan babi terinfeksi atau lingkungan terkontaminasi dengan virus flu babi. Jalur kedua melalui kontak dengan seseorang yang terinfeksi dengan virus flu babi. Penularan manusia ke manusia dari flu babi juga telah dilaporkan dan diperkirakan terjadi pada jalur yang sama seperti halnya flu musiman. Influenza diperkirakan menular dari manusia ke manusia melalui batuk atau bersin oleh orang yang terinfeksi.<br />
Seseorang yang bekerja dengan unggas dan babi, khususnya orang-orang dengan paparan yang intensif, memiliki resiko infeksi influenza dari hewan tersebut jika hewan tersebut membawa strain yang juga dapat menginfeksi manusia. SIV dapat bermutasi menjadi bentuk yang dapat menularkan dari manusia ke manusia. Strain yang bertanggung jawab pada wabah flu babi 2009 dipercaya telah terjadi mutasi.<br />
WHO secara resmi menyatakan wabah ini sebagai pandemi pada 11 Juni 2009, namun menekankan bahwa pernyataan ini adalah karena penyebaran global virus ini, bukan karena tingkat bahayanya. WHO menyatakan pandemi ini berdampak tidak terlalu parah di negara-negara yang relatif maju, namun dianjurkan untuk mengantisipasi masalah yang lebih berat saat virus menyebar ke daerah dengan sumber daya terbatas, perawatan kesehatan yang buruk, dan bermasalah medis.  Laju kematian kasus (case fatality rate atau CFR) galur pandemik ini diperkirakan 0,4 % (selang 0,3%-1,5%). Sebenarnya angka tersebut lebih ringan dibandingkan flu buirungb yng mempunyai CFR 60-80%.</p>
<p><strong>Penatalaksanaan</strong><br />
Uji laboratorium telah menemukan bahwa virus babi influenza A (H1N1) rentan terhadap obat antivirus oseltamivir dan zanamivir, dan CDC telah mengeluarkan petunjuk untuk penggunaan dari obat ini untuk mengobati dan menghambat infeksi virus flu babi. Antivirus lain (misal, amantadine, rimantadine) tidak direkomendasikan oleh karena saat ini resistensi pada influenza lainnya telah terjadi pada beberapa tahun lalu.<br />
Terapi suportif dasar seperti, terapi cairan, analgesik, penekan batuk mungkin perlu diberikan. Pengobatan antivirus secara empiris perlu diperhatikan untuk kasus flu babi, baik yang sudah pasti, masih dalam kemungkinan, ataupun kecurigaan terhadap kasus ini. Pengobatan pasien rawat inap dan pasien dengan resiko tinggi untuk komplikasi influenza perlu sebagai prioritas.<br />
Penggunaan antivirus dalam 48 jam sejak onset gejala sangat penting dalam hubungannya dengan efektivitas melawan virus influenza. Pada penelitian mengenai flu musiman, bukti akan manfaat pengobatan lebih baik jika pengobatan dimulai sebelum 48 jam sejak onset penyakit. Beberapa penelitian mengenai pengobatan flu mengindikasikan banyak manfaat, termasuk mengurangi kematian atau durasi rawat inap, bahkan pada pasien yang mendapat pengobatan lebih dari 48 jam setelah onset penyakit. Lama pengobatan yang direkomendasikan adalah selama 5 hari.<br />
Oseltamivir (Tamiflu) dan Zanamivir (Relenza) bekerja dengan menghambat neuraminidase, suatu glikoprotein pada permukaan virus influenza yang merusak reseptor sel terinfeksi untuk hemagglutinin virus. Dengan menghambat neuraminidase virus, pelepasan virus dari sel terinfeksi dan penyebaran virus akan berkurang. Oseltamivir dan Zanamivir merupakan terapi yang efektif untuk influenzavirus A atau B dan diminum dalam 48 jam sejak onset gejala.</p>
<p><strong>Pencegahan<br />
</strong></p>
<p>Pencegahan flu babi dikeluarkan Working Group ASEAN for One Health,  dan CDC seperti pencegahan Influenza pada umumnya meliputi peningkatan higiena, sanitasi dan perilaku hidup bersih diri sendiri. Sampai saat ini belum ditemukan vaksin untuk pencegahan flu babi.Vaksin yang biasa digunakan untuk influenza pada permulaan flu musiman tidak efektif untuk strain virus ini</p>
<p>Perilaku utama yang dapat mencegah penyebaran virus influaenza adalah melakukan Cuci tangan sesering mungkin.  Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalirbeberapa kali dalam sehari. Keringkan tangan setelah dicuci. Jika tidak ada air, Anda mungkin bisa menggunakan bahan pencuci tangan dari alkohol.<br />
Dalam keramaian dan tempat umum sebaiknya hindari bersentuhan mata, hidung atau mulut. Virus influenza sering menyebar ketika seseorang bersentuhan dengan penderita yang terkontaminasi oleh kuman, kemudian bersentuhan dengan mata, hidung atau mulutnya. Hindari berdekatan dengan seseorang yang sedang sakit. Untuk sementara, hindari berjabat tangan, serta ciuman dengan orang di wilayah yang dilaporkan terserang wabah influenza.<br />
Hal penting lainnya adalah sebaiknya tinggallah di rumah  dan hindari pusat-pusat keramaian, jika sedang sakit.  Kesadaran pribadi ini akan membantu mencegah orang lain dari kemungkinan tertular oleh penyakit . Jika sedang sakit, jagalah jarak dengan orang lain untuk melindungi mereka agar tidak ikut terserang sakit. Jika sedang sakit, sebaiknya berpikir ulang untuk melakukan perjalanan dengan pesawat atau alat transportasi lainnya. Jika Anda terpaksa harus terbang ke negara yang terserang flu Babi, kemudian merasa sakit setelah kembali, maka Anda secepatnya harus konsultasi ke dokter.<br />
Sebaiknya gunakan penutup hidung dan mulut ketika berada di tempat keramaian.Gunakan sapu tangan atau tisu ketika Anda sedang batuk atau bersin untuk mencegah penyebaran virus. Jika tidak punya tisu, gunakan lengan baju bagian depan, jangan pakai telapak tangan. Buanglah tisu di tempat sampah.<br />
Pencegahan umum yang penting lainnya adalah menerapkan gaya hidup sehat.  Pikirkan ulang untuk melanjutkan merokok, istirahat atau tidur yang cukup, olahraga secara rutin sehingga tubuh bisa aktif, mengelola tingkat stress, meminum air banyak-banyak, memakan makanan bernutrisi seperti buah, sayur, susu dan sumber protein lain yang cukup.<br />
Dalam keadaan seperti ini sebaiknya melakukan konsultasi dengan dokter jika sakit. Datangi ke pusat layanan kesehatan atau dokter jika ada tanda-tanda gejala sedang sakit, seperti susah bernafas, demam tinggi dan muntah-muntah.<br />
Dalam derasnya arus globalisasi informasi di dunia internasional sebaiknya ikuti perkembangan informasi dari otoritas kesehatan lockl dan internasional. Masyarakat  perlu tetap mengikuti perkembangan situasi terkini dari wabah influenza dan saran-saran yang disampaikan oleh otoritas kesehatan lokal dan internasional.<br />
Semoga cobaan bagi masyarakat dunia ini dapat dilewati umat manusia dengan korban seminimal mungkin. Tampaknya masyarakat Indonesia tidak bisa menghindari ancaman petaka ini,Tetapi  tidak harus dengan sikap kepanikan tetapi dengan kewaspadaan yang tinggi dalam pencegahan penyakit maka diharapkan masyarakat Indonesia dapat meminimalkan ancaman virus yang ganas dan cepat ini.  Seharusnya masyarakat tidak boleh terkalahkan hanya oleh sebuah virus Flu Babi.  Semua harus berupaya dengan doa dan ikhtiar karena sebelumnya bangsa ini sudah berpengalaman menghadapi ancaman virus yang tak kalah ganas  seperti flu burung. Selamat datang flu babi, masyarakat bangsa ini  tiada henti untuk melawanmu.</p>
<p> </p>
<p> </p>
<p><strong>Supported  by</strong><strong><br />
</strong><strong><em>CLINIC FOR CHILDREN</em></strong><strong> </strong></p>
<p><strong>Yudhasmara Foundation</strong><strong></strong></p>
<p><strong>JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Indonesia 102010</strong></p>
<p><strong>phone : 62(021) 70081995 – 5703646</strong><strong></strong></p>
<p><a href="http://childrenclinic.wordpress.com/"><strong>http://childrenclinic.wordpress.com/</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Clinical and Editor in Chief :</strong></p>
<p><strong>DR WIDODO JUDARWANTO</strong><strong></strong></p>
<p><strong>email : </strong><a href="mailto:judarwanto@gmail.com"><strong>judarwanto@gmail.com</strong></a><strong></strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong>Copyright © 2009, Clinic For Children Information Education Network. All rights reserved.</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/feverclinic.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/feverclinic.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/feverclinic.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/feverclinic.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/feverclinic.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/feverclinic.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/feverclinic.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/feverclinic.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/feverclinic.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/feverclinic.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/feverclinic.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/feverclinic.wordpress.com/324/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/feverclinic.wordpress.com/324/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/feverclinic.wordpress.com/324/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=feverclinic.wordpress.com&amp;blog=6332130&amp;post=324&amp;subd=feverclinic&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://feverclinic.wordpress.com/2009/06/25/akhirnya-selamat-datang-flu-babi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f6debdeb22f6b0399ef2901158cc415a?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">cfc</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
